Jumat, November 20, 2009

Menulis hanya perlu pembiasaan

Setelah ditanamkan minda pertama bahwa menulis itu ibadah, minda kedua ialah bahwa menulis itu mudah. Sulitnya menulis hanya terjadi di minggu-minggu pertama kita memulai proses pembiasaan, seperti canggungnya penganten baru. Ini diakui oleh sebagian penulis-penulis berkaliber nasional dan internasional.

 Bambang Trim mengatakan bahwa menulis gampang-gampang susah. Artinya, gampangnya dua kali, susahnya sekali. Kesusahan itu akan hilang dengan sendirinya setelah proses pembiasaan berketerusan dengan berlatih setiap hari. Ersis Warmansyah Abbas mengumpamakan menulis dengan menyetir mobil.Waktu belajar, tubruk sana tubruk sini. Andrias Harefa mengumpamakan menulis seperti naik sepeda, awal-awalnya masih susah mencari titik keseimbangan. Edy Zaqeus mengumpamakan belajar menulis seperti jadi penganten.Grogi. Begitulah para penulis produktif itu menggambarkan bagaimana mudah atau susahnya menulis. Itu pengalaman ril mereka.

 Bagaimana dengan pengalaman anda? Mari berbagi.

 Ada teori yang mengatakan semua kita terlahir sebagai jenius. Mungkin benar mungkin tidak. Tetapi menulis tidak memerlukan kejeniusan itu. Kalaupun kita ditakdirkan jenius, kejeniusan itu mungkin diperlukan untuk yang lain, tapi bukan untuk menulis. Orang yang IQ nya pas-pasan seperti saya saja, bisa menulis he he he.

 Saya sudah ujicobakan teori ini kepada anak saya yang baru duduk di kelas 4 SD, menjelang naik ke kelas V. alhamdulillah berhasil. Begitu mudahnya menulis, anak itu sudah menulis satu artikel dalam beberapa jam saja. Kini sudah lahir puluhan artikel di tangannya.

 Anak kelas 4 SD sudah bisa menulis? Ya, karena keterampilan menulis itu adalah keterampilan sekolah dasar. Walaupun ia masih menulis cerita fiksi, alias khayalan, tidak apa, sebagai pemula. Sekarang dia sudah mulai menulis non fiksi juga, lengkap dengan referensi-referensinya, wow. Saya sekarang sedang melatih anak saya yang baru sekolah di taman kanak-kanak, Tadika Global Ikhwan, untuk menulis. Kalimat yang terdiri dari dua atau tiga kata sudah bisa dirangkainya, walaupun masih lambat tertatih-tatih. Jangan-jangan keterampilan menulis bukan lagi keterampilan tingkat SD tapi malah TK.

 Tentu saja Anda tidak boleh bandingkan tulisan anak saya itu dengan buku "Menjadi Manusia Pembelajar"nya Andrias Harefa atau novel "Laskar Pelangi" nya Andrea Hirata. Jelas, itu perbandingan yang tidak berimbnag. Saya hanya sekedar ingin menunjukkan bahwa menulis itu ternyata sangat mudah. Anak kecil saja bisa, yang tua pasti lebih bisa. Itu maksudnya.

 Menulis kan pada dasarnya hanya menyalin apa yang sedang anda pikirkan dan rasakan ke dalam simbol berupa huruf-huruf, membentuk kata yang bersusun menjadi kalimat untuk dipahami yang membaca. Sebaliknya, membaca adalah memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh si penulis menggunakan simbol yang sama. Dengan kombinasi menulis dan membaca maka terjadilah pertukaran pikiran dan perasaan dari orang ke orang. Waduh, memahami penjelasn ini saja, malah lebih sulit daripada menulis itu sendiri.

 Anda bisa membaca, bukan? Kalau bisa, berarti Anda telah mengetahui simbol-simbol berupa kata. Menulis adalah kebalikan membaca. Kalau begitu, alangkah mudahnya menulis itu karena kita hanya mengubah pikiran menjadi kata. Apa yang kita tulis adalah apa yang ada di dalam pikiran kita. Pikiran itu sendiri muncul setiap detik dalam kehidupan kita dalam jumlah yang berlimpah ruah dari detik ke detik, lebih cepat dari tarikan nafas.

 Anda setiap hari berbicara, bukan? Berbicara sama dengan menulis. Bedanya, simbol yang dipakai dalam berbicara adalah simbol lisan, berupa ucapan dan intonasi. Sementara dalam tulisan, kita menggunakan susunan kata dan tanda baca. Kalau Anda bisa bicara berjam-jam, begunjing, "ngrumpi", apalagi berceramah, mengajar, atau memberi kuliah, Anda pasti bisa menulis berjam-jam.

 Kalau sedang sendirian di mobil atau di kamar mandi, Anda sering berbicara sendiri. Apalagi sedang jengkel dengan orang lain, dengan istri, suami atau mertua, kita sering menggerutu sendiri, berjam-jam, bahkan berhari-hari. Sebenarnya Anda sedang menulis satu artikel, cuma di awang-awang. Ini semua pertanda Anda bisa menulis di kertas. Tinggal ambil alat tulis, beres.

 Kuncinya sederhana sekali rupanya. Ambillah alat tulis, kertas dan pena atau komputer. Tulislah dulu satu kalimat, satu saja, kemudian berhenti. Tulislah lagi satu kalimat kedua sebagai pengiringnya, berhenti lagi. Lanjutkan menulis kalimat yang ketiganya dan seterusnya. Anda akan merasakan bagaimana pikiran Anda mulai bangun dan terus mengalir. Anda akan merasakan aliran pikiran begitu deras, berbaris-baris seperti serdadu, melompat keluar satu persatu, berubah bentuk menjadi kalimat demi kalimat. Wow.

 Anda akan mengalami juga suatu waktu ketika alirannya hampir tak bisa dibendung lagi. Ketika itu aliran pikiran bahkan melebihi kecepatan tangan menulis. Bahkan sebagian penulis mengkau bisa lupa waktu, lupa istri, lupa suami. Ya, salah juga. Janganlah sampai sebegitunya. Semua penulis besar yang sudah menulis puluhan buku mengakui adanya keadaan ini, dan mereka punya istilah masing-masing yang lucu-lucu untuk menyebutkan keadaan ini. Ada yang menyebutnya dengan istilah "writing trances", "orgasmic writing", atau "writing on fly". Tidak ada yang ajaib. Tuhan telah buatkan untuk kita semua kemudahan itu. Bersyukurlah.

 Macet? Ya tidak apa-apa, tinggal berhenti sejenak. Nanti akan ada celahnya Anda untuk jalan kembali. Lha jalan di Jakarta saja tiap hari macet. "Itu saja kok repot?" kata Gus Dur. Tidak ada macet yang permanen. Menulis mari menulis. Menulis itu sangat mudah.

 Anda punya pandangan lain? Ayo, mari berbagi.

 Wallahu a'lam.

Ai, ternyata menulis itu memang sangat mudah. He he he.

Tulislah dulu satu kalimat, satu saja. Kalimat pendek boleh. Anda akan tahu bahwa menulis itu ternyata memang mudah . Tulislah lagi satu kalimat kedua sebagai pengiringnya. Anda akan rasakan bagaimana pikiran Anda mulai bangun dan menuntun Anda menulis kalimat yang ketiganya. Ikutilah tuntutan itu. Dengarkan suara hati. Ubahlah suara itu menjadi kalimat-kalimat berikutnya, sampai ia beriring-iringan seperti gerbong kereta api.

Setelah itu, Anda akan mulai merasakan aliran pikiran yang berbaris seperti serdadu Nazi, melompat keluar satu persatu karena takut dibunuh, berubah bentuk menjadi kalimat demi kalimat. Kini alirannya hampir tak bisa dibendung lagi. Otak menggelinjang. Botol pikiran itu kini telah seperti kehilangan sumbatnya. Mengalir dan mengalir.

Ai, ternyata, saya baru tahu menulis itu memang mudah, bahkan sangat mudah. Lihat, saya sudah selesaikan dua paragraf. Ajaib, bukan?

Saya ada cerita lama yang sedikit memalukan. Geli rasanya kalau diingat-ingat kembali. Suatu ketika dulu, tahun 80-an, saya bertemu satu buku yang ditulis oleh seorang penulis novel sohor Arswendo Atmowiloto yang berjudul, "Mengarang itu Gampang." Anda pernah baca buku itu? Terus terang, saya marah dan tersinggung.

Saya jawab, "Ah, siapa bilang mengarang itu gampang?" Kalaulah mengarang atau menulis itu gampang, tidaklah saya harus bersusah payah mencari tempat fotokopi yang murah sepanjang Gang Pelesiran di Bandung untuk mengopi "text book" asing, berbahasa asing, ditulis oleh orang asing, yang dipakai dalam kuliah, yang harga buku aslinya membuat kepala pening. Kalau menulis itu mudah, dosen-dosen itu pasti telah menuliskan kuliahnya dalam diktat-diktat yang pasti harganya terjangkau. Mengapa pula harus pakai buku tulisan orang lain? Bukankah di kampus sehebat ini, banyak pakar, bertaraf internasional, jebolan sekolah-sekolah antar bangsa? Tapi, buktinya tidak. Buku-buku agamapun pada waktu itu hampir seluruhnya karya terjemahan. Waktu itu kami banyak membaca buku2 tulisan ulama Mesir, Pakistan, dan Iran.

Saya punya bukti lain bahwa mengarang atau menulis tidak gampang. Tahukah Anda bahwa pernah juga dulu saya paksakan menulis dan mengirimkannya ke salah satu bulletin di kampus. Bulletin yang sama sekali tidak terkenal. Eh, tulisan itu ditolak mentah-mentah. Sang redaktur mengirimkan naskahnya kembali ke alamat saya, penuh dengan coretan dengan menyelipkan sebuah note, "Tulisan ini bagus, tapi maaf tidak bisa kami muat."

Apa salahnya, coba. Topiknya seingat saya tentang jin. Menarik bukan? Membicarakan jin waktu itu lebih menarik daripada membicarakan manusia. Tapi, mengapa tidak bisa dimuat?

Saya menuduh Arswendo Atmowiloto telah membuat lelucon besar. Dia meremehkan pekerjaan menulis seolah-olah setiap orang bisa melakukannya. "Gampang, gampang, tulislah!" Buktinya? Bukan saya saja, saya melihat ribuan intelektual, sarjana, dosen, mahasiswa, insinyur, dokter, ustaz, kiyai, manajer, bergelimpangan tidak bisa menulis. Inikah yang disebut "gampang" itu?

"Oh, mereka mungkin tidak punya bahan." Tak punya bahankah seorang professor?

"Oh, mungkin tak punya waktu." Selama 40, 50, bahkan 60 tahun? Tak bisa kah menyisihkan waktu untuk beberapa hari untuk sebuah buku atau beberapa jam untuk sebuah artikel?

Waktu itu, saya yakin hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menulis. Yang lain hanya berhak untuk membaca. Logikanya nampak seperti itu, harus lebih banyak pembaca dari penulis. Lha, kalau semua orang menulis, siapa lagi yang membacanya?. Orang yang sudah biasa menulis, kebetulan diberi rezki kemampuan menulis, seperti Arswendo tentu akan mengatakan menulis itu gampang. Pak Habibi juga akan mengatakan bahwa membuat pesawat terbang itu gampang. Kalau begitu apakah semua orang bisa membuat pesawat terbang seperti Pak Habibi?

Begitu sulitnya menuangkan pikiran ke dalam tulisan itu, sampai-sampai saya pikir saya ditakdirkan hanya untuk membaca bukan untuk menulis. Menulis saya anggap keterampilan luar biasa yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu yang IQ nya jauh di atas saya. Orang yang IQ nya sekelas saya, terimalah nasib untuk menjadi pembaca saja seumur hidup, jangan bermimpi jadi penulis. "Menulis tak kalah sulitnya dari merancang pesawat ruang angkasa, biar pakarnya saja" pikir saya.

Akhirnya untunglah saya bertemu juga dengan orang-orang pilihan, penulis-penulis yang senang berbagi ilmu. Mereka menempeleng "mental block" yang sangat memalukan itu. Mereka membantu mencabik-cabik "frame" berpikir saya, dan membantu melepaskan kaca mata kuda yang saya pasang sendiri untuk mengekang potensi yang sudah Tuhan anugerahkan pada saya. Saya anggap mereka orang-orang yang baik hati. Tuhanlah yang mengirim mereka pada saya. Alhamdulillah.

Menulis itu ternyata mudah. Bahkan sangat mudah. Sekarang saya ingin minta maaf kepada Arswendo karena sudah berprasangka buruk. "Mas, mengarang itu ternyata memang gampang, bahkan sangat gampang" Hua ha ha ha. Begitu gampangnya, sehingga tidak diperlukan kursus mengarang. Hua ha ha ha.

Kalaupun masih terasa sulit dalam menulis, itu hanya akibat kegamangan seperti gamangnya penganten baru menaiki ranjang pengaten di minggu-minggu pertama. Para penulis senior mengatakan bahwa sulitnya menulis seperti sulitnya belajar menyetir mobil pertama kali, tubruk sana tubruk sini. Keringat bercucuran, tapi menyenangkan. Kalau sudah sehati, menyetir mobil itu bisa sambil ngobrol, makan kacang atau chatting di HP.

Aduh maaf, jadi terlalu panjang nnarasinya.

Bagaimanapun juga, kursus atau workshop untuk membangkitkan motivasi dan memantapkan teknik-teknik khusus dalam kepenulisan, seperti teknik narasi, argumentasi, eksposisi, sastrawi, dll, sah-sah saja diikuti. Biayanya toh tidak seberapa dibanding dengan manfaatnya.

Anda berani menerima tantangan? Let's go...

Wallahu a'lam.

Menulislah dengan nama Allah karena menulis itu ibadah

Kaidah pertama Q'Writing adalah meletakkan "mindset" atau minda di hati bahwa menulis itu ibadah kepada Allah SWT. Menulis merupakan perintah Allah kepada hamba-hambaNya. Karena itu, menulis harus dilaksanakan karenaNya, untukNya, dan di atas jalanNya. Inilah yang dimaksukan dengan menulis adalah ibadah. Sebelum otak dijejali dengan seperangkat teori, teori ini dulu.

 Tidak terbayang betapa indahnya menulis, menghentak-hentakkan jari dengan lembut di atas keyboard atau menggoreskan pena di kertas, menuliskan pikiran dan perasaaan sementara hati penuh dengan rasa bertuhan dan rasa kehambaan? Apalagi kalau kita menulis selepas shalat dan wirid. Proses itu tidak hanya dapat menumbuhkan rasa bertuhan yang semakin dalam di hati yang menulis, tapi juga dapat memberikan keinsafan kepada yang membaca. Dan alangkah sia-sianya apa yang kita tulis, namun hati dipenuhi dengan hasrat duniawi, kepentingan emosional dan kebendaan. Menulis seperti itu pasti sangat menjemukan.

 Menulis yang paling indah adalah menulis sambil mendengarkan dendang hari nurani.Tidak hanya mengadalkan pandangan akal pikiran, tetapi mendengarkan bisikan hati nurani. Korek-koreklah sedikit celah-celah hati itu dan dengarkan kumandang suara Tuhan melaluinya. Kenang-kenangkan Tuhan. Kenang-kenangkan kemahapengawasannya, bahwa dia terus menerus mengawasi kita, melihat, mendengar, dan terus menerus berbicara dengan kita. Dengarkanlah baik-baik petunjuk-petunjukNYa. Perhatikan peringatan-peringatanNya. Jangan terlalu percaya dengan bisikan nafsu walau terasa sangat memberi harapan. Visualisasi nafsu di depan mata kita adalah tipu daya seperti fatamorgana.

 Mulailah menulis dengan menyebut namaNya, Ingat-ingatlah Dia selalu selama menulis, Ketika sampai waktu untuk menghadapNya, berhentilah menulis, tunaikanlah terlebih dulu kewajiban-kewajiban kepadaNya. Setelah itu, lanjutkanlah menulis kembali. Tak usah gopoh. Akhirilah tulisan Anda dengan memasrahkan kembali hasilnya kepadaNya, dengan rasa cemas, rasa was-was kalau-kalau Allah tak redha. Minta ampunlah kepadaNYa.

 Pikiran dan perasaan yang tertuang dalam tulisan Anda akan menjadi tulisan yang memiliki ruh, daya ledak yang dahsyat, bukan tulisan yang ompong, kosong. Tulisan-tulisan itu, betapapun sederhana, singkat, padat akan menjadi asas pembangunan peradaban manusia. Manusia bisa terhibur dan terobati dengannya.Tulisan ini akan menghiasi sejarah, sepanjang zaman. Betapapun jasad kita sudah terkubur, tulisan-tulisan itulah yang akan menggantikan keberadaan kita di dunia ini, sampai-sampai orang lupa bahwa sesungguhnya kita sudah wafat.

 Kita boleh menuliskan hal-hal yang sederhana saja dalam tulisan yang singkat, satu atau dua paragraf. Kalau mau boleh tulis yang berat-berat, berjilid-jilid. Kalau perlu berpeti-peti. Kalau mampu menuliskan rahasia alam semesta ini, tentang energi kuantum, DNA, biologi molekuler, nuklir, dll, tulislah, kenapa tidak? Kalau mau menulis tentang dinamika manusia, ekonomi, politik, sejarah, dll, tulislah, tidak usah ragu-ragu. Kalau tidak mampu menulis yang berat-berat, tulis yang ringan-ringan saja, tentang masa kanak-kanak yang lucu, tentang kawan yang jahil, tentang kecoa yang menjijikkan, dll. Kita boleh menuliskan pengalaman, pengamatan, bahkan khayalan. Khalayalan juga bisa, mengapa tidak? Menulis cerita fiksi itu sesungguhnya menuliskan khayalan. Sebagian besar anak-anak belajar menulis dengan menulis khayalan-khayalannya. Berkelanalah ke seluruh alam jagat raya ini. Tuliskanlah hasil pengelanaan itu dengan kata dan kalimat. Syaratnya cuma satu. Apapun yang ditulis, bagaimanapun gayanya, kapanpun waktunya, jangan lepaskan dengan rasa bertuhan dan rasa kehambaan.

 Mulailah dengan menyebut nama Allah, "Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang." Bisikkan ke dalam hati, "Wahai Tuhan, izinkan aku menuliskan pikiran dan perasaanku. Tidaklah ada maksudku kecuali mengikuti perintahMu dan demi tegaknya kebaikan-kebaikanMu. Aku hanya seorang hamba, sementara Engkau adalah Tuhanku. Bimbinglah aku. Curahkanlah ke hatiku ilmu. Jangan biarkan setan dan nafsu mengganguku sehingga tercabut rasa takut dan cintaku pada Mu." Dengan cara itu, insyaallah akan lahir tulisan-tulisan yang mencerahkan bukan meresahkan, tulisan-tulisan yang membawa kebaikan bukan kehancuran. Alangkah indahnya dunia ini, jika semua tulisan yang beredar di buku-buku, majalah, media-media elektronik, blog-blog, website adalah tulisan-tulisan yang lahir dari 'abid-abid, yang hatinya penuh dengan rasa bertuhan dan rasa kehambaan.

 Inilah yang saya katakan dengan menulis adalah ibadah kepada Allah. Selama ini, ada sebagian kawan kita yang berpikir bahwa ibadah itu hanya untuk urusan taharah, shalat, zakat, haji, membaca Alquran, zikir, dan do'a saja. Di sekitar itu saja kita harus kaitkan dengan Tuhan. Itu keliru. Jangan pakai lagi ajaran itu. Seluruh aktifitas kita sejak bangun tidur sampai tidur lagi, dan bahkan dalam tidur sekalipun, harus menjadi ibadah, terkait dan dikaitkan dengan Tuhan dan syariatNya. Di mesjid kita beribadah, di pasar kita beribadah, di kantor beribadah, di kendaraan kita beribadah, bahkan di toilet atau kamar mandipun kita beribadah.

 Dengan indah dalam Al Quran surat Al Qalam, ayat 1 tertulis "Nun, walqalami wama yasturun." Demi pena, dan apa-apa yang ditulis. Betapa agungnya kegiatan tulis menulis dalam padangan Allah. Alangkah ruginya jika urusan yang seagung ini dijadikan sesuatu yang tidak berharga, tersia-sia, hanya karena mengejar mimpi duniawi belaka. Menulis mari menulis. Kita bangun lagi kasih sayang melalui tulis menulis. Menulislah karena Allah, untuk Allah dan di atas jalan Allah.

 Bagaimana menurut pendapat anda?

 Wallahu a'lam.

Sedikit tentang jargon Q'Writing

Mungkin ada bertanya-tanya, Q'Writing kosa kata dari planet mana. Soalnya di bebera tulisan saya terdahulu sudah menyebutkannya. Q'Writing, saya singkat dari QuantumWriting. Nama sebuah teori baru, berisi formula yang inspiratif berupa kumpulan gagasan yang dapat (setidak-tidaknya diharapkan) membangkitkan motivasi menulis, sekaligus mengarahkan penulis menemukan track tercepat dalam menulis sehingga lebih produktif. Ya, itu istilah saya saja. Belum dicek apakah sudah ada yang memakainya atau belum. (Kemana ngeceknya ya? Mohon maaf, kalau sudah ada yang pakai apalagi sudah mematenkan.

 Jadi sambil belajar menulis, saya mencoba menyusun formula-formula itu. Bahan-bahannya bukan hasil perenungan saya. Sedikit-sedikit ada jugalah. Apalah saya, bisa menciptakan sebuah teori secara orisinil. Bahannya diambil dari pengalaman penulis-penulis yang sudah lebih dulu sukses di bidang tulis menulis. Adonannya bukan dari satu dua orang saja, melainkan diramu dari belasan penulis-penulis yang mau berbagi kepenulisan mereka, terutama melalui blog-blog. Meminjam istilah Hernowo Hasim, teori ini adalah hasil "mengikat makna" dari sejumlah teori. Menurut Buzan, hasil "mindmapping". He he he.

 Pengalaman dan kesediaan para penulis untuk berbagi, tidak bisa dipandang enteng bagi perkembangan tulis menulis di negeri ini. Mereka telah menelorkan buku-buku best seller di bidangnya masing-masing sebagai bukti kepenulisan mereka. Tak perlulah saya sebutkan satu persatu nama mereka di sini. Yang pasti, mereka semuanya penulis produktif atau best seller, baik fiksi maupun non fiksi, baik ilmiah maupun pop, baik dalam negeri maupun luar negeri. Saya mengambil berbagai trik, tip, teknik, resep, short cut, atau apalah namanya, dari pengalaman mereka menulis yang saya aduk-aduk dengan pengalaman saya sendiri, ditambahi bumbu. Sekali-sekali ditapis juga. Yang berkaitan dengan Islam dan spiritual, saya merujuk kepada guru mursyid saya, Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad at Tamimi, yang juga seorang penulis kurang lebih 100-an judul buku/booklet dan 10,000-an sajak, seraya minta ampun maaf kalau ada kekhilafan di sana sini.

 Q'Writing, kalau Anda mau artikan dengan QalbunWriting, sebenarnya bisa juga karena di dalamnya akan disinggung sedikit banyak tentang qalbu, hati nurani, spiritualitas. Mau disebut Quranic Writing juga boleh, karena dalam formulasinya, Anda sedikit banyak akan dibawa menyelami ayat-ayat Al Quran, sebuah dokumen tertulis terabadi dan teragung sepanjang zaman. Rasanya, ketiga-tiganya bisa relevan dalam konteks ini.

 Untuk sementara biar saya jelaskan dulu relevansinya dengan teori Quantum dalam Fisika. Mudah-mudahan saja nyambung.

 Saya tahu, beberapa buku sudah menggunakan kata Quantum (kadang-kadang pakai huruf "k" menjadi Kuantum). Sebutlah diantaranya Quantum Learning, Quantum Business, Quantum Teaching, dan yang terakhir Quantum Ikhlas. Yang saya sebutkan itu termasuk buku-buku motivasi. Mungkin akan ada orang yang khawatir kalau istilah ini meniru atau mengekor orang lain.

 Eit, tenang dulu. Saya tidak perlu malu. Yang dilarang adalah membajak karya orang bulat-bulat dan mengkomersilkannya. Sebagian besar yang terjadi di dunia tulis menulis adalah tiru-meniru dan ekor-mengekor. Satu judul jadi best seller, puluhan buku akan mengekornya. Ada yang mengekori judulnya, ada yang mengekori temanya, bahkan ada yang mengekori desain covernya. Itu sudah lumrah.

 Quantum itu sendiri bukanlah istilah dari ranah motivasi atau psikologi itu sendiri, melainkan dari Fisika. Tokoh-tokoh Fisika modern yang diprakarsai oleh Albert Einstein mengoreksi teori-teori Fisika klasik tentang energi. Fisika klasik melihat energi sebagai suatu yang kontinu, yang disebut Continum, yang bergerak dalam bentuk gelombang, sementara Fisika modern melihat energi sebagai suatu pancaran paket yang teputus-putus, yang disebut Quantum, yang besarnya berbanding lurus dengan masa dan kecepatan berpangkat dua.

 Banyak penulis motivasi tertarik mengaitkan motivasi ke teori quantum. Mungkin karena mereka tertarik pada hubungan antara energi dan kecepatan, sehingga mereka juga terinspirasi untuk melihat hubungan antar amotivasi, energi dan produktifitas dalam aktifitas manusia. Sederhana, bukan?

 Menulis, misalnya, ternyata bukan didominasi oleh masalah keterampilan, melainkan masalah motivasi. Tepatlah kalau teori ini dinamakan dengan Quantum juga. Logikanya sederhana saja, semakin energik menulis akan semakin cepat hentakan keyboardnya. Semakin cepat akan semakin energik.Begitulah berbolak balik, sambung menyambung.

 Jadi, Q'Writing itu sendiri pada wujud nyatanya adalah kumpulan artikel, yang saya tulis dalam bentuk paket-paket kecil. Walalupun kecil tapi padat, persis seperti quantum pada Fisika. Paket itu berdaya ledak hebat karena ditulis dalam kecepatan tinggi. Setiap paket berdiri sendiri seperti bom atom yang siap membordir jiwa-jiwa yang tidur.

 Betulkah? Itukan maunya. Mohon do'a. Mohon input.

 Anda ingin bisa menulis seperti penulis-penulis besar? Bacalah Q'Writing dan bersiaplah untuk meledak! Hua ha ha. Selamat datang di dunia tulis-menulis yang menyenangkan. Monggo.

 Para blogger, sila mengakses juga teori ini melalui http://batubertulis.blogspot.com

  
 

Wallahu a'lam

Selasa, November 17, 2009

Terinspirasi dari bloger

Saya bangga bisa berkenalan dan belajar dengan dua tokoh yang saya anggap sebagai inspirator kepenulisan saya: Andrias Harefa dan Edy Zaqeus. Oh ya, juga Her Suharyanto. Ketiga-tiganya dari Writer Scholen, sebuah lembaga pengembang kemampuan personal, khususnya menulis. Awalnya saya akan belajar menulis secara autodidak saja. Malu-maluin rasanya sudah tua masih belajar menulis. Tapi saya pikir-pikir, saya mungkin sudah tidak punya waktu lagi, karena bahan yang akan ditulis banyak bukan main. Otak sudah penuh, lemaripun penuh. Untuk dapat jalan pintas, saya urungkan niat bermalu-malu itu. Saya nekat juga akhirnya mengikuti workshop kepenulisan yang diadakan oleh mereka. Setelah itu, saya lanjutkan dengan membaca buku-buku tulisan mereka yang khusus membicarakan perkara kepenulisan dan tak lupa saya kunjungi blog-blog mereka yang sangat inspiratif, karena mereka memang termasuk blogger. Andrias di http://andriasharefa.com, Edy di http://ezonwriting.wordpress.com, dan Her Suharyanto di http://jurutulis.com

 
Perlu diketahui akhir-akhir ini, saya suka mengunjungi blog-blog yang beredar di dunia maya. Sebagian blog itu saya cari sendiri melalui google atau yahoo, dan sisanya hasil link dari blog-blog yang sudah saya kunjungi terlebih dulu. Mungkin karena sudah kompak untuk saling membaca, biasanya para bloger itu menyediakan link ke blog-blog lain yang mereka rekomendasikan yang mereka namakan blog teman atau blog tetangga. Menarik sekali memang. Satu blog terbuka, yang lain akan susul menyusul.

 
Karena blogging kemana kemari, baru-baru ini mentor saya bertambah satu lagi dalam kepenulisan. Beliau adalah Ersis Warmansyah Abbas. Belum lama ini, saya dikejutkan oleh satu blog dengan tajuk "Menulis tanpa berguru, http://webersis.com. Saya belum pernah bertemu muka. Pertemuan satu-satunya melalui dunia maya saja. Menurut saya, inilah blog yang paling getol membicarakan tentang menulis. Bahkan saya sempat berpikir jangan-jangan sudah terlalu getol. "Pokoknya tulis, " itu katanya.

 
Berbeda dengan Andrias dan Edy yang menganggap workshop atau kursus kepenulisan perlu, Ersis malah mempertanyakan apa perlu adanya workshop atau kursus menulis diadakan. Bagi dia kursus itu menghabiskan waktu dan uang saja. Bagi Ersis menulis ya menulis. Tidak ada cara belajar menulis kecuali menulis tiap hari. Terus menulis sebanyak-banyaknya. Tidak bisa menulis yang panjang-panjang, tulis yang pendek. Bahan tulisan tersebar di mana-mana.

 
Untuk membakar semangat, saya sempat terbakar tapi tidak sampai hangus, pikiran Ersis ini boleh juga dipakai. Saya dibuat gregetan membaca tulisan-tulisannya. Dan saya setuju bahwa teknik menulis adalah keterampilan yang dipelajari di SD. Andrias pernah mengatakan itu juga pada saya. Hanya saja mungkin, kita tidak boleh abaikan adanya fakta, ternyata banyak orang yang tidak bisa menulis padahal bahan yang akan ditulisnya bertumpuk-tumpuk. Ersis sendiri yang sering mengatakan bahwa dosen-dosen lebih senang memamerkan buku orang yang sudah dia baca, bukan buku yang dia tulis, padahal dia mampu bercerita di depan kelas berjam-jam. Kalau ia mau menulis apa yang dia ceritakan itu, berpuluh-puluh buku akan lahir di tangannya. Saya kira ini benar-benar menyinggung perasaan para intelektual. Mungkin sebagian bertobat dan terus menulis, dan sebagian lagi berdendam pada Ersis.

 
Kalau saya gabungkan pemikiran Ersis dengan pemikiran Andrias dan Edy, intinya sama. Ada overlappingnya. Workshop atau kursus yang dipandang perlu oleh Andrias dan Edy, ternyata memang bertujuan membangkitkan motivasi, bukan belajar menyusun kata menjadi kalimat dan seterusnya menjadi pargaraf. Dosen-dosen yang diceritakan Ersis sebenarnya memang tidak memerlukan pelajaran menulis dalam arti menyusun kalimat, melainkan perlu suntikan motivasi. Jadi saya pikir, kursus menulis sah-sah saja, sebagai wadah pembangun motivasi. Bagi yang melihat bahwa faktor motivasi merupakan ganjalannya selama ini, maka ikutlah kursus. Bagi yang sudah memilikinya, silakan langsung memulai. Kalau saya, kayaknya masih perlu motivator.

 
Apapun yang mereka katakan dan apapun perbedaan pendapat masing-masing, ketiga orang ini telah menginspirasi saya. Dari inspirasi itu, sayapun telah menjelajah ke blog-blog lain yang tak terhitung jumlahnya, yang semuanya bicara tentang kepenulisan. Fiksi dan non fiksi sudah bercampur aduk. Yang ilmiah, yang pop, yang gaul telah menjadi satu. Kini giliran saya untuk menyiapkan teori baru dalam kepenulisan yang saya namakan "QuantumWriting", he he he.

 
Orang lain boleh berteori, mangapa pula saya tidak boleh? Ingat, antara Quantum dan Writing, sengaja tidak pakai spasi, biar nampak gagah.

 
Sudah banyak buku yang menggunakan kata Quantum, tidak masalah. Tenang saja. Tak usah malu-malu. Sebagian besar yang terjadi di dunia tulis menulis adalah tiru meniru dan ekor mengekor. Yang penting tidak membajak. Quantum itu sendiri istilah yang diambil dari Fisika modern yang mengoreksi fisika klasik tentang energi. Fisika klasik melihat energi sebagai suatu yang kontinu (kontinum) yang bergerak semacam gelombang, sementara Fisika modern melihat energi sebagai suatu paket yang teputus-putus yang dipancarkan yang besarnya berbanding lurus dengan masa dan kecepatan berpangkat dua, yang disebut Quantum

 
Karena menulis ternyata bukanlah masalah keterampilan, melainkan masalah energi, maka tepatlah kalau teori ini dinamakan dengan Quantum juga. Seperti saya sampaikan tadi, sebelum ini telah banyak buku yang menggunakan nama kuantum (pakai huruf "k") untuk menunjukkan antara energi dan kecepatan. Karena masa tetap, maka energi akan berbanding lurus dengan kecepatan. Semakin tinggi kecepatan semakin tinggi energi yang diperoleh. Para penulis senior telah membuktikan hubungan yang sangat jelas antara kecepatan menulis dan energi motivasi. Motivasi yang tinggi meningkatkan kecepatan menulis berkali-kali. Demikian juga kecepatan menulis menaikkan energi motivasi. Semakin cepat semakin energik.

 
Formula dalam QuantumWriting tidak diambil dari satu dua orang penulis hebat. Teori ini diramu dari lebih sepuluh penulis-penulis yang mau berbagi kepenulisan mereka melalui blog-blog. Mereka telah menelorkan buku-buk best seller di bidangnya masing-masing sebagai bukti kepenulisan mereka. Tak perlu disebutkan satu persatu nama mereka di sini. Mereka di antaranya penulis fiksi dan sebagian non fiksi. Sebagian mereka adalah penulis ilmiah, penulis pop dan sebagian lagi penulis gaul. Di dalam QuantumWriting ada paket-paket kecil tulisan, persis seperti kuantum energi. Namun setiap paket itu berdaya ledak yang tinggi. Setiap paket berdiri sendiri. Walaupun pendek secara materi tetapi dikerjakan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ingat besarnya energi berbanding lurus dengan kecepatan berpangkat dua. Meminjam istilah Hernowo Hasim, teori ini adalah hasil pengikatan makna dari sejumlah teori.

 
QuantumWriting akan berisi metoda membangitkan semangat menulis dan metoda memproduktifkan tulisan. Formula ini diharapkan pula akan memberikan motivasi bagi para pencinta tulis-menulis dan memberikan metoda singkat dan padat bagaimana menjadi produktif dalam menulis. Semogalah lahir generasi yang yang akan membangun peradaban yang lebih baik di masa depan karena kita memulainya dari elemen asas membangun peradaban itu sendiri, yaitu menulis.

 
Anda ingin bisa menulis seperti penulis-penulis besar? Pelajari QuantumWriting! Selamat datang di dunia tulis-menulis yang menyenangkan. Para blogger, sila mengakses teori ini melalui http://batubertulis.blogspot.com

 
Bagaimana pendapat anda?

 
Wallahu a'lam.

 
 

Jumat, November 06, 2009

Sariawan dan menulis

Ternyata ada hubungan antara sariawan dengan menulis. Mau tahu? Hampir sejak seminggu yang lalu saya di serang sariawan. Posisinya tepat di tepi lidah sebelah kiri, luka memanjang. Kalau dipakai bicara, sakitnya bukan main, karena ia menggeser ke geraham kiri. Tapi kalau dibawa makan yang pedas, tak terasa apa-apa. Entah sariawan atau hanya luka bekas tergigit, saya tak tahu pasti.

 
Akibat sariawan, saya harus mengurangi frekuensi berbicara. Kalaupun saya paksakan, saya akan "mengaduh". Ada beberapa obat yang sudah saya coba, nampaknya tidak mempan. Padahal di sisi lain, saya tidak mungkin berhenti berkomunikasi, baik untuk keperluan pribadi ataupun keperluan pekerjaan. Terutamanya keperluan pekerjaan. Setiap pagi biasanya saya harus diskusi dengan kawan melalui telepon.

 
Sebagai konsekuensinya, saya harus menulis. Kini terpaksa pakai e-mail atau chating sebagai pengganti telepon langsung. Saya jadi teringat guru-guru menulis saya yang bersusah payah memaksa saya menulis dan menulis, namun tak menulis juga. Gara-gara sariawan saya jadi terpaksa menulis. Bahkan sekarang malah jadi susah menghentikannya. Ada-ada saja yang ingin saya tulis.

 
Tak disangka hal yang kelihatannya tak terkait, ternyata terkait erat: sariawan dan menulis.

 
Walaupun ada hikmahnya, saya tetap berharap sariawan saya sembuh juga. Do'akan ya!. Dan, Anda jangan sama sekali berharap kena sariawan dulu seperti saya untuk mulai menulis.

 
Bagiamana pendapat Anda?

 
Wallahu a'lam

 
 

Selasa, Oktober 28, 2008

Teknik Penciptaan Modus

Ada tiga modus dalam suatu wacana yaitu modus deskripsi, narasi, dan eksposisi. Deskripsi artinya melukiskan suatu objek dengan kata-kata. Narasi artinya menceritakan suatu kejadian dengan kata-kata. Sedangkan eksposisi artinya menerangkan pengertian sesuatu, baik objek maupun konsep dengan kata-kata. Deskrpisi, narasi, dan eksposisi dipergunakan silih berganti dalam satu wacana.

DESKRIPSI

Seorang deskriptor yang piawai mampu membawa pembacanya bertualang menembus ruang dan waktu. Dia mampu membawa pembaca memasuki gua-gua persembunyian para gerilyawan, memasuki pasar-pasar becek dan bau, memasuki mal mewah. Deskriptor mampu membawa pembaca bertualang ke kota-kota manapun secara menakjubkan, baik kota modern, kota kuno, dan bahkan kota fantasi di ruang angkasa. Mengapa demikian?

Deskripsi adalah bagian dari tulisan yang memanfaatkan kosa kata yang dapat mengaktifkan indra pembaca. Deskripsi menggunakan kata-kata yang dapat membawa membaca melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba.

Ketika seorang deskriptor menuliskan kata-kata indah, cantik, buruk, belang, silau, terang, dll pembaca seolah-olah akan melihatnya karena kata-kata itu dapat mengaktifkan syaraf penglihatan pembaca. Kalau dia menggunakan kata-kata seperti busuk, sumpek, anyir, dll, pembaca akan menutup hidungnya. Syaraf penciumannya langsung bekerja. Kata-kata seperti renyah, kelat, sedap akan mengaktifkan kelencar air liur. Demikianlah kata-kata tertentu dapat mengaktifkan indra-indra manusia.

Jika Anda mendeskripsikan sesuatu, bayangkanlah bahwa Anda sedang membawa pembaca Anda untuk melihat, mendengar, mencium, mengecap dan meraba apa yang sedang Anda deskripsikan itu. Bahkan deskripsi yang baik mampu membawa pembaca memiliki efek-efek psikologis seperti benci, marah, jijik, senang, bernafsu dll. Inilah yang diistilah oleh para ahli dengan show not tell.

Maksudnya, jika Anda ingin pembaca Anda merasa benci dengan seseorang yang jahat, Anda jangan mengatakan bahwa dia jahat. Deskripsikanlah orang itu. Aktifkan penglihatan pembaca agar ia melihat langsung sosoknya, tatapan matanya, giginya, dan pakaiannnya. Perlihatkan caranya memukul orang, menganiaya orang. Gunakan kata-kata indria. Dengan demikian pembaca akan menyimpulkan bahwa orang itu benar-benar jahat. Memang itulah yang ingin Anda sampaikan bahwa dia jahat, tapi dengan cara deskriptif yang teliti, Anda hanya menggiringnya menyimpulkan hal yang sama dengan Anda. Cerdas bukan?

Deskripsi yang cerdas dapat menstimulasi emosi. Tulisan yang dilengkapi dengan deskripsi semacam ini dapat menghidupkan tulisan sehingga enak dibaca. Walaupun demikian penulis non fiksi harus hati-hati dalam menulis deskripsi untuk stimulasi emosi ini. Bisa-bisa tokoh yang Anda deskripsikan itu membantah tulisan Anda dan memperkarakan Anda ke polisi.

Karena takut menjadi fitnah itulah, penulis non fiksi selalu memasukkan tokoh aku dalam narasinya. Semua stimulasi emosi dilimpahkan kepada tokoh aku sehingga tokoh-tokoh lain cukup dijelaskan apa adanya sesuai data yang tersedia. Tulisan feature (jurnalisme sastrawi) menggunakan trik ini.

Salah satu sebab manusia menciptakan cerita fiksi adalah agar penulis mampu membuat deskripsi yang dalam terhadap suatu tokoh, waktu, tempat atau suatu kejadian agar memberikan stimulasi yang sedalam-dalamnya kepada pembaca. Hal ini tidak masalah karena tokohnya fiktif. Bahkan kadang-kadang tempat dan kejadiannya semuanya fiktif.

Deskripsi fiktif hanya memberikan pesan-pesan moral saja kepada pembacanya di samping keindahan seni berbahasa. Semua data, nama, tempat, dan bahkan kejadian yang dideskripsikan tidak dapat dijadikan pegangan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di sinilah kelebihan sekaligus kekurangan fiksi di bandingkan dengan non fiksi.

NARASI

Bernarasi artinya membawa pembaca Anda memasuki perjalananan dalam dimensi waktu. Anda membawanya berada dalam adegan-adegan dari waktu ke waktu. Berbeda dengan deskripsi yang menjelaskan bentuk fisik suatu objek seperti warna, bau, bentuk, rasa, dll, narasi menjelaskan kejadian.

Karena narasi adalah penjelasan tentang kejadian, selalu di dalamnya ada plot dan adegan. Plot adalah garis waktu sedangkan adegan adalah kejadian yang terjadi dalam satu waktu yang bersambung. Perhatikan narasi berikut.

Saya sedang makan ketika saya mendengar suara orang berjalan di depan pintu. Saya berhenti mengunyah dan menoleh ke pintu. Tak lama kemudian saya mendengar ketukan. Saya berkata dalam hati, "siapa yah? Malam-malam begini bertamu." Saya lalu berdiri dan bergerak pelan ke pintu dengan penuh penasaran. Padahal di mulut saya masih ada makanan yang belum selesai saya kunyah.

Tulisan di atas adalah narasi. Plotnya ditunjukkan oleh kata-kata ketika, tak lama kemudian,dan lalu. Kejadian diungkapkan dengan kata-kata seperti sedang makan, mendengar, berhenti mengunyah, mendengar ketukan pintu, dll. Rangkaian kejadian dalam waktu yang besambung tersebut dipandang sebagai satu adegan. Bila kejadian itu sudah berpindah ke titik waktu yang berjauhan, kejadian yang baru di pandang satu adegan lagi. Jadi, satu adegan bukan satu kejadian tapi sekumpulan kejadian dalam waktu yang sangat bersambung tanpa terputus.

Dalam prakteknya, deskripsi dan narasi sering dipakai bersamaan. Ketika seorang penulis mengisahkan suatu kejadian di suatu ruang tertentu, penulis sekaligus mendeskripsikan ruangan itu agar pembaca bukan saja mengikuti kejadiannya tapi juga melihat gambaran suasana ruangan tempat kejadian itu terjadi. Bahkan dengan ditambahkan deskripsi tentang tokoh-tokohnya, pembaca akan merasakan bahwa ia ada di tempat kejadian itu.

Ciri khas utama narasi adalah kejadian. Namun, setiap kejadian ada tokoh, tempat, waktu, adegan, dan plot. Tokoh adalah orang yang terlibat dalam kejadian itu, baik sebagai pelaku, penderita ataupun penyerta. Tokoh bisa orang pertama (seolah-olah penulis cerita) yang menggunakan kata ganti aku atau saya. Tokoh bisa orang ketiga (penulis seolah-olah hanya saksi) yang menggunakan kata ganti dia atau ia. Setiap kejadian ada tempat, dan setiap kejadian ada saatnya. Beberapa kejadian dapat diceritakan dalam waktu yang tidak terputus. Kumpulan kejadian tersebut walaupun dalam bentangan waktu yang panajang disebut adegan. Waktu terjadinya kejadian harus berada dalam satu garis waktu yang dinamakan plot. Plot tidak harus maju. Kadang-kadang plot bisa juga mundur, atau bahkan maju mundur.

Karena adanya tokoh di dalam narasi, manmbahkan kutipan langsung percakapan tokoh-tokoh berupa dialog-dialog membuat pembaca mendengarkan sendiri apa yang mereka katakan. Cara ini membuat narasi lebih hidup. Dengan membaca dialog-dialog itu pembaca akan tahu dengan sendirinya karakteristik tokoh yang tidak diceritakan oleh penulis. Berikut ini contoh narasi yang dilengkapi dengan dialog.

"saya benci dengan orang yang suka jam karet" kata Ani dalam hati. Sudah berjam-jam dia duduk menunggu, masih belum ada tanda-tanda suaminya datang. "Brengsek" katanya."Aku tak mau ke sini lagi besok-besok" sambil menghempaskan pantatnya ke tempat duduk di ruang tunggu terminal itu.

Narasi bisa fiktif dan bisa fakta tergantung Anda. Bila Anda membuat narasi fiktif, jangan Anda gunakan nama tokoh yang ril dalam cerita itu kalau Anda tidak mau diperkarakan ke pengadilan. Gunakanlah tokoh fiktif untuk narasi yang fiktif. Namun, jika Anda ingin menuliskan narasi yang benar-benar terjadi, pastikan semua dialog, data, waktu dan kejadian akurat dan dapat dibuktikan.

EKSPOSISI

Bila Anda menyebutkan suatu konsep atau istilah, sebaiknya Anda tidak boleh melewatkannya begitu saja tanpa memberi penjelasan apa yang Anda maksud dengan konsep itu. Anda perlu menejelaskan definisinya, baik dengan menjabarkan contohnya, menyebutkan kelompoknya, menyebutkan pengingkarannya. Cara seperti ini disebut eksposisi.

Dengan eksposisi, penulis memberikan kepahaman. Berbeda dengan deskripsi yang berorientasi untuk menghidupkan indra, eksposisi bertujuan menghidupkan syaraf pemahaman.

Anda mungkin suatu ketika mengatakan bahwa tulisan yang baik itu adalah tulisan yang menghinosis pembaca. Dalam kalimat itu ada kata menghipnosis. Anda tentu tak ingin pembaca Anda salah memahami apa yang Anda maksud dengan menghipnosis itu. Untuk itu kemudian Anda menejelaskan bahwa menghipsnosis berarti memberikan kesan yang dalam bagi pembaca dan memotivasinya untuk berbuat sesuatu. Anda dapat menambahkan bahwa menghipnosis bukan menyihir seperti yang dilakukan tukang santet. Andapun mungkin menambahkan lagi bahwa tulisan yang menghipnosis adalah tulisan yang menerapkan teknik-teknik retorika di dalamnya. Anda di sini berarti telah membuat sebuah eksposisi terhadap kata atau istilah hipnosis.

Mendefinisikan suatu istilah atau konsep termasuk ke dalam membuat eksposisi. Anda juga membuat eksposisi bila anda menjelaskannya dengan memberikan contoh, ilustrasi, pembanding, bukti, alasan atau Anda membuat klasifikasi. Pokoknya, eksposi membuat pembaca Anda terangguk-angguk ketika membaca dan dalam hatinya berkata, "ya…ya… ya, saya faham sekarang." atau "o… itu toh maksudnya."

Bersama-sama dengan deskripsi dan narasi, penggunaan eksposisi membuat tulisan Anda benar-benar hidup dan berbobot. Anda dapat menyelipkan eksposisi di tengah narasi. Anda dapat memasukkan eksposisi yang diselingi deskripsi. Ketiga modus tersebut akan bekerja bersama-sama. Narasi akan membawa membaca berada dalam dimensi waktu. Deskripsi akan membawa pembaca mengindera segala yang ada dengan keterlibatan emosi. Eksposisi akan membawa pembaca memahami apa yang terlihat maupun yang terjadi itu secara nalar. Penulis yang piawai tidak kan pernah melewatkan kombinasi ini. Eureka!

Sebelum kita beralih ke topik lain, saya harus menyampaikan kepada Anda bahwa ada sebagian ahli memasukkan persuasi dan argumentasi ke dalam modus wacana. Sebenarnya persuasi dan argumentasi bukanlah modus melainkan sifat suatu wacana yang dipengaruhi oleh maksud dan tujuan penulisan. Wacana yang bersifat persuasif ditujukan untuk mempengaruhi pembaca agar ia mau melakukan sesuatu yang diharapkan penulis. Wacana yang bersifat argumentatif ditujukan untuk mendebat suatu keyakinan agar pembaca meninggalkannya dan bersedia menerima keyakinan yang baru. Wacana yang bersifat informatif ditujukan untuk memberikan kepahaman dan pengertian kepada pembaca. Wacana yang bersifat rekreatif ditujukan untuk menghibur pembaca.

Walaupun semua sifat itu dapat dipisah-pisahkan, namun kenyataannya tulisan yang hebat mengandung kombinasi sifat-sifat itu. Satu wacana besifat menghibur karena bahasa yang digunakan adalah bahasa yang menyejukkan, sederhana, dan ringan. Tapi jangan lupa, secara implisit, penulis membawa pembaca kepada keyakinan tertentu dan membawa pembaca melakukan sesuatu, dan tak ketinggalan pula menyelipkan beberapa informasi yang berguna.

Untuk keempat sifat wacana tadi, semua modus yang sudah kita bahas di atas dapat dipakai. Kita dapat memasukkan deskripsi, narasi dan eksposisi ke dalam wacana persuasif. Demikian juga kita dapat memasukkan ketiga modus ke dalam wacana argumentatif, informatif dan rekreatif.

Teknik Diksi

Diksi akan efektif jika kita selalu mengiringi setiap pemilihan kata dengan dua pertanyaan, yaitu (1) apakah kata yang telah dipilih tersebut telah jelas? , (2) apakah kata tersebut telah sesuai?, dan (3) apakah ia menarik? Inilah tiga kata kunci sebagai kriteria memilih kata: jelas, sesuai, dan menarik. Jelas di sini artinya sejauh mana kata tersebut sanggup menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca seperti yang dipikirkan penulis. Sesuai artinya sejauh mana kata tersebut dapat diterima oleh pembaca dengan situasi atau suasana hatinya. Menarik, sejauh mana kata itu mampu menggerakkan pembaca secara emosional menyentuh seleranya.

Teknik diksi telah berumur ribuan tahun dan terus berkembang sampai hari ini agar kita dapat memilih kata-kata yang memiliki efek dinamis dari sekian banyak kosa kata untuk dipakai dalam tulisan.

Bila kita sudah menemukan satu kata, sebenarnya telah berbaris berpuluh-puluh alternatif di belakangnya untuk mengungkapkan gagasan yang sama. Yang menjadi masalah ialah bahwa kata-kata yang banyak itu tidak semerta-merta bermuculan ketika kita memerlukannya. Kata-kata itu bersembunyi, malu untuk keluar. Di sinilah perlunya penguasaan teknik diksi itu.

Langkah pertama dalam teknik diksi adalah mengekplorasi semua makna yang terkandung dalam satu kata yang kita pilih, baik makna leksikal maupun gramatikal, baik makna denotasi maupun konotasi, baik yang baru maupun yang sudah klise. Untuk keperluan ini, tidak ada sarana yang paling tepat selain kamus yang punya otoritas. Kamus yang punya otoritas dalam Bahasa Indonesia adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Kita sudah membahas pada artikel yang lalu istilah polisemi, yaitu kata yang memiliki banyak makna. Kita juga sudah bicarakan panjang lebar istilah homonimi, yaitu kata-kata yang mirip ejaannya tapi merupakan kata yang sama sekali berbeda. Dengan mengekplorasi kamus tersebut, kita akan mengatahui semua makna yang terkandung, baik polisemi maupun homonimi. Semua makna kata polisemi dalam KBBI ditempatkan dalam satu lema yang sama, tapi kata yang homonimi ditempatkan pada lema yang berbeda.

Hati-hati menggunakan kata beruang karena dapat berarti mempunyai uang, mempunyai ruang, atau binatang kutub. Kata buku bisa berarti kitab dan bisa berarti batas antara dua ruas. Demikian juga kata yang ejaannya mirip walaupun tidak persis sama, jangan sampai salah pakai seperti preposisi dan proposisi, bahwa dan bawah, Karton dan kartun.

Dengan memahami semua makna yang memungkinkan tersebut, kita akan dapat memutuskan untuk terus menggunakan kata yang sudah kita pilih atau akan menggantinya dengan kata lain yang lebih tepat yaitu jelas, sesuai, dan menarik. Untuk tulisan ilmiah, misalnya, kita akan menghindari kata-kata yang mengandung makna konotatif. Sebaliknya, tulisan fiksi, kita cendrung memilih kata tersebut untuk melukiskan emosi dan melahirkan imajinasi. Untuk tulisan yang ditujukan kepada pembaca umum, kita akan menghindari jargon ilmiah dan menggantinya dengan kata yang bersinggungan langsung dengan pengetahuan dan pengalaman calon pembaca.

Dari hasil ekplorasi makna, kitapun akan tahu makna yang sudah mengalami perubahan dari masa ke masa. Kata selalu mempunyai sejarahnya sehingga maknanya bisa berubah dari waktu ke waktu, baik menyempit, meluas, atau samasekali punah atau beralih ke makna lain. Suatu makna yang populer di suatu masa, pada masa yang lain telah menjadi klise. Kata seperti rembulan, mentari, bagaikan lebah beriring, seindah bintang kejora sudah merupakan kata-kata klise yang tidak sedap lagi dibaca. Adapula kata yang sudah sangat kuno, namun kalau diungkapkan kembali agar terjadi penyegaran makna.

Setelah ekplorasi makna suatu kata, baik yang polisemi maupun yang homonimi, langkah berikutnya adalah memeriksa kata-kata lain yang berkerabat dengan kata yang kita pilih; sinonim, antonim, hiponim dan derivatifnya. Setiap kata tersebut selalu berpeluang untuk digunakan untuk menggantikan kata yang sudah dipilih.

Sinonim adalah kata-kata lain yang serupa atau mendekati makna suatu kata. Kata cantik bersinonim dengan kata ayu, jelita, manis, jelita, dll. Kata itu berantonimkan kata-kata buruk, jelek, dll.
Kata cantik berhiponim dengan indah, paras muka, dll. Kata cantik berderivatif dengan kecantikan, tercantik, dll. Cantik pun berhubungan dengan kerabat dengan berhias, bersolek, make-up, kosmetik, dll.

Anda suatu ketika telah memilih kata pembantu. Dengan ekplorasi kata yang berkerabat dengannya, Anda akan menemukan kata pelayan, babu, jongos, hamba, sahaya, abdi, membantu, bantuan, perbantuan, dll. Anda dapat memilih salah satu yang memberikan efek khusus pada gagasan yang akan disampaikan.

Untuk keperluan ini semua, kita memerlukan satu tesaurus di tangan. Tesaurus yang baik tentulah tesaurus yang mendaftarkan semua kata, sebanyak-banyaknya yang berkerabat dengan satu kata. Sayang sekali tesaurus yang seperti itu belum ada. Sekarang sudah ada Tesaurus Bahasa Indonesia. Walaupun tesaurus yang tersedia sekarang ini masih belum menuliskan kata-kata secara lengkap, namun sudah cukup memadai untuk sekedar membantu kita menemukan kata-kata yang berkerabat dengan kata-kata yang kita pilih.

Batapapun di tangan Anda sudah ada kamus dan tesaurus, tanpa pertanyaan yang terus menerus diajukan tentang kejelasan, kesesuaian, dan kemenarikan suatu kata, pemilihan kata tetap tidak efektif. Pertanyaanpertanyaan itulah yang akan menggiring Anda memilih satu yang terbaik.

JELAS

Kata yang dipilih harus jelas bagi pembaca. Kejelasan akan memastikan ketepatan imajinasai pada pembaca dengan penulis. Bila tidak jelas, pembaca akan membayangkan suatu yang lain yang berbeda dengan yang dimaksud oleh penulis. Untuk mencapai kejelasan tersebut, pedoman berikut ini dapat dipergunakan.

Kata yang konkrit lebih jelas dibandingkan dengan yang abstrak. Jika kita menemukan dua kata, yang satu mempunyai makna yang konkrit dan dan satu lagi abstrak, maka gunakanlah yang konkrit. Kata yang konkrit menghasilkan imajinasi yang lebih tepat daripada yang abstrak. Kalau tidak ditemukan padanan kata yang konkrit, kita dapat menambahkan suatu deskripsi panjang lebar atas kata yang abstrak tadi sehingga lebih konkrit maknanya.

Ada kata yang dipakai luas dan umum dan ada kata yang dipakai dalam kelompok-kelompok khusus tertentu. Hindari kata-kata yang hanya dikenali di kelompok khusus untuk pembaca umum. Kata-kata yang digunakan di dunia akademis, mungkin tidak dikenali oleh pelanggan majalah wanita. Kata khusus tepat dipakai jika tulisan kita memang ditujukan pembaca khusus. Contohnya kata percobaan lebih bersifat umum daripada eksperimen. Tapi, di kelompok tertentu, kata eksperimen lebih tepat dari percobaan.

Contoh lain, kata herder lebih spesifik daripada kata anjing. Kata anjing lebih spesifik daripada binatang. Penggunaan kata herder mempunyai efek yang lebih jelas dibandingkan dengan penggunaan kata binatang, misalnya. Namun tetap berhati-hati karena karena kata yang sangat spesifik yang hanya dikenal di lingkungan tertentu mungkin tidak dikenal oleh pembaca taget. Misalnya, seorang penulis yang menyebutkan jenis spesies virus tertentu, seperti HN-55. Kata itu termasuk kata yang sangat sepesifik, tetapi mungkin tidak dikenali oleh pembaca tertentu kecuali penulis menambahkan penjelasan tambahan.

Pembaca akan memberikan respons penginderaan ketika membaca kata-kata yang bersentuhan dengan penginderaan. Kata jenis ini disebut kata indria. Penggunaan kata-kata jenis ini akan memberikan efek psikologis yang tajam. Kata-kata ini memberikan imajinasi yang sangat dalam. Gunakan kata indria tersebut sedapat mungkin untuk mendeskripsikan sesuatu. Kata-kata indria memiliki daya imajinasi yang sangat kuat yang mudah ditangkap oleh otak pengindraan pembaca.

SESUAI

Jika kita melihat konteks kata secara situasi dan kondisi pembaca, ada kata yang sesuai dan yang tidak sesuai walaupun makna leksikal kata itu tepat. Kata aku dan saya sama makna leksikalnya. Tapi, kata aku kurang sesuai untuk tulisan yang bersifat formal. Kata buang air kecil lebih sesuai untuk situasi tertentu dibandingkan dengan kata kencing. Jika Anda mengatakan sekelompok orang dengan kata bodoh dan terbelakang mereka mungkin akan marah. Tapi bila Anda tulis kurang memahami dan belum berkemajuan, mereka akan senyum-senyum saja.

Ada beberapa tips untuk mendapatkan kata yang sesuai dalam teknik diksi. Pertama, kenali benar target pembaca anda. Apakah mereka masyakat umum ataukah mereka kelompok tertentu, seperti kelompok ilmuwan, wartawan, pebisnis dll. Setiap kelompok memiliki kecendrungan penggunaan kata-kata tertentu dan ketabuan kepada kata-kata tertentu. Lebih parah lagi, satu kata yang sama dapat memiliki makna yang berdeda di kelompok yang berbeda.

Kedua, kenali benar jenis dan tulisan anda. Jika tulisan anda merupakan tulisan serius, ilmiah dan bersifat akademis, tentu anda tidak akan menggunakan kata-kata slang atau istilah percakapan lainnya. Sebaliknya bila tulisan anda bersifat populer dan menghibur, anda sebaiknya tidak menggunakan jargon-jargon ilmiah. Bila tulisan anda bertujuan untuk mengintimidasi emosi pembaca, kata-kata yang lebih sesuai tentulah kata-kata yang penuh emosional dan mempunyai efek indria.

MENARIK

Kata yang menarik adalah kata yang memberikan efek psikologis pada pembaca. Salah satu kata yang menarik adalah kata-kata yang singkat. Kalau ada dua kata yang memiliki makna yang sama, pembaca lebih senang dengan yang lebih singkat. Yang termasuk kata yang menarik adalah kata yang menunjukkan tindakan. Kata-kata jenis ini memberi tenaga. Pembaca lebih senang dengan dia melukai tangan dari pada dia membuat luka di tangan. Kata yang menarik adalah kata yang berona, berirama, atau kata-kata yang membuat seseorang menggerakkan aktif indranya.

Orang akan lebih tertarik membaca tulisan yang mengandung kata-kata yang menyentuh langsung pengalaman dan pengetahuannya dibandingkan dengan kata-kata yang tidak pernah dialaminya walaupun ia tahu makna kata itu.

Orang juga menyukai kata-kata yang penuh perumpamaan, metafora, dan personafikasi. Tulisan yang enak dibaca biasanya mengandung banyak unsur-unsur tersebut. Untuk tulisan yang non fiksi sekalipun akan enak dibaca bila dibumbui kata-kata yang penuh dengan perumpamaan, metafora, dan personafikasi asalkan tidak berlebih-lebihan.

Jadi, kalau kata yang jelas akan mantap memasuki nalar pembaca, maka kata-kata yang sesuai akan memenuhi cita-rasa pembaca sedangkan kata yang menarik akan memasuki ruang seleranya.

Dua buku yang tidak boleh lepas selama anda menulis adalah kamus dan tesaurus. Dengan kamus, Anda menemukan makna. Dengan tesaurus anda menemukan padanan kata yang berkerabat. Semakin sering Anda menggunakan satu kata dalam tulisan, semakin aktif kata tersebut dalam kosa kata Anda. Namun untuk memperkaya kosa kata, Anda harus membiasakan diri untuk terus membaca karya-karya yang kaya dengan kosa kata yang beraneka ragam. Andapun lama kelamaan akan menyerap kata-kata itu ke dalam kosa kata Anda.

Senin, Oktober 27, 2008

Retorika dalam Wacana

Sekitar tahun 1986, saya duduk di Masjid Salman, bersama jamaah lainnya menunggu berdirinya khatib Jum'at. Tak lama kemudian, berdirilah khatib yang ditunggu-tunggu itu. Dia seorang asing. Maksudnya, belum pernah saya dengar khotbahnya. Umurnya masih muda, belum sampai 40, berkacamata tebal. Itulah khotbah yang sungguh tak terlupakan. Dia bercerita tentang kepemimpinan. Kisah yang disampaikan di pembukaannya, urutan pesan-pesannya, bahkan do'a penutupnya semuanya telah menghypnosis saya. Sejak itu tokoh itu tak terlupakan. Sejak itu saya mengikutinya, mencari jadwal-jadwal ceramahnya, mengingat pembicaraannya. Dialah Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat).

Saya mulai berpikir, betapa besarnya manfaat sebuah khotbah yang memukau, menarik perhatian seperti khotbah Kang Jalal. Banyak materi khotbah atau ceramah tak kan hilang begitu saja. Saya bayangkan, kalaulah seandainya semua penceramah menyadarinya, banyak sekali perubahan akan terjadi di tengah masyarakat. Ceramah-ceramah agama akan dibanjiri pendengar. Pengajian-pengajian akan menjadi pusat perhatian.

Tapi sayang. Kebanyakan penceramah hanya sekedar berceramah. Ceramahnya tidak ditata sedemikian rupa sehingga menarik. Celotehan tukang obat yang menjajakan obat kudis di pinggir pasar kadang-kadang jauh lebih menarik daripada khutbah seorang khatib yang menjelaskan tentang pentingnya undang-undang pornografi. Akhirnya banyak ajaran agama dilecehkan, ditinggalkan, dan tidak diambil pduli oleh masyarakat.

Sejak saat itu, saya sangat tertarik untuk belajar bagaimana mengemas suatu ceramah menjadi ceramah yang menghypnosis seperti ceramah-ceramahnya Kang Jalal. Waktu itu saya belum berpikir mengenai istilah hypnosis. Saya hanya berpikir tentang ceramah yang berkesan, berpengaruh, dan tak terlupakan.

Tanpa sengaja di suatu toko buku di bandung tak begitu lama setelah pertemuan pertama saya dengan Kang Jalal, saya menemukan sebuah buku yang ditulis oleh Kang Jalal sendiri, judulnya Retorika Modern. Alangkah gembiaranya saya, terasa seperti pucuk dicinta ulam tiba. Saya tekuni buku ini. Saya ikuti lebih banyak ceramah-ceramah Kang Jalal dan saya bandingkan konsistensi antara apa yang dia tulis di buku dan apa yang dia praktekkan dalam ceramahnya. Pas. Sungguh menakjubkan. Semuanya pas. Kang Jalal menuliskan teori-teori persuasi dalam buku itu. Kang Jalal terbukti menata ceramah-ceramahnya berdasarkan teori itu. Apa yang ditulisnya dia jalankan. Ini berarti bahwa saya belajar retorika dari buku dan pengamatan sekaligus. Suatu kesempatan yang langka.

Secara diam-diam saya meniru Kang Jalal berpidato. Saya tiru gayanya. Saya tiru metodanya dalam menyusun pesan-pesan pidato. Bahkan saya kutip kosa katanya.

Pernah satu ketika saya menanyakan pada beliau, " Apakah Bapak tidak tulis buku tentang retorika untuk tulisan?" Saya merasa retorika untuk tulisan juga sangat saya perlukan. Saya juga ingin belajar menulis yang retoris, seperti saya sekarang belajar ceramah yang retoris. Beliau menjawab, "pada dasarnya, secara teoritis, retorika untuk lisan sama dengan tulisan. Retorika pada dasarnya adalah tatacara menata bahasa, baik berupa kata maupun kalimat, sehingga memberi pengaruh pada pendengar dan pembaca."

Jadi itulah ringkasnya retorika menurut Kang Jalal. Saya kemudian belum pernah menemukan tulisan beliau tentang retorika untuk tulisan. Saya yakin bahwa apa yang beliu tulis di retorika modernpun sebenarnya dapat diaplikasikan dalam bentuk tulisan.

Setelah itu satu demi satu buku Kang Jalal muncul di pasaran. Setiap saya membaca tulisannya, saya memeperoleh kesan yang sama mengesankannya seperti ceramahnya. Saya melihat bahwa tulisan-tulisan beliau telah ditata berdasarkan teori retorikanya. Beliau kini bukan saja pembicara yang sukses tapi juga penulis yang sangat mempengaruhi saya. Tulisan-tulisan beliau menghypnosis.

Baru-baru ini saya bertemu buku Hypnotic Writing karya Joe Vitale. Itupun tidak sengaja. Saya ambil buku itu di rak Gramedia hanya karena di sampulnya tertulis "Guru The Secret". Maklumlah saya baru saja menamatkan buku The Secret, dan saya sangat terpengaruh. Saya pun membeli buku Hypnotic Writing, dan membacanya sampai tamat.

Setelah tamat, baru saya sadar apa yang dikatakan Joe Vitale, bahwa dia tidak hanya akan menjelaskan apa dan bagaimana hypnotic writing itu, tapi akan mempraktekkannya melalui buku itu. Dia akan menghypnosis pembaca buku hypnotic writing. Saya ternyata benar-benar terhypnosis. Dalam satu hari saja, sebagiannya dalam perjalanan, saya telah membaca buku itu lebih dari separohnya. Dalam satu hari lagi saya menamatkan seluruhnya. Sayapun membaca buku itu sekali lagi sampai tamat. Luar biasa. Ini satu pengalaman yang menarik.

Tiba-tiba terpikir oleh saya, rasanya ada kaitan antara buku Retorika Modern-nya Kang Jalal dan Hypnotic Writing-nya Joe Vitale. Dulu saya menanyakan kepada Kang Jalal, "Apakah ada buku retorika untuk tulisan?" Buku Joe Vitale ini adalah buku itu. Sebenarnya buku Pak Jalal dapat dijuduli Hypnotic Speech, dan Buku Joe dijuduli dengan Tulisan yang retoris.

Saya setuju dengan Joe, bahwa hypnotic writing adalah tulisan yang ditata sedemikian rupa mengikuti kaedah-kaedah hypnosis. Itu artinya kita menambahkan teknik-teknik retorika dalam komposisi dasar. Dengan menata seperti itu maka tulisan kita akan menyedot perhatian pembaca. Perhatian tersebut akan bertahan sampai bacaannya selesai. Begitu asyiknya, sampai-sampai pembaca tak mau melewatkan membacanya kata demi kata. Tulisan itu sulit dilupakan. Saran-sarannya sulit ditolak. Bahkan perintahnya akan dilaksanakan. Itulah hypnotic writing.

Kalau begitu, begitu banyak orang yang mesti mempelajari hypnotic writing. Semua orang yang terlibat dengan komunikasi tertulis, wajib mempelajari hypnotic writing. Kalau tidak, tulisan mereka akan dibuang ke dalam kotak sampah. Hanya tulisan-tulisan yang menghypnosis saja yang akan dibaca orang sampai habis. Hanya tulisan yang menghipnosis saja yang akan mempengaruhi.

Banyak buku yang telah ditulis orang, namun buku-buku yang menghipnosis saja yang tetap melegenda. Joe menyebutkan beberapa buku yang menghipnosis seperti The Tempest dan Harry Potter. Dia menyebutkan juga beberapa yang lain yang semuanya menghipnosis.

Saya juga merasakan beberapa buku yang penah saya baca telah menghypnosis. Sebutlah beberapa diantaranya seperti karya-karya Abuya Ashari, Karya Kiyosaki. Dan karya penulis Indonesia seperti Mahbub Junaedi, Dahlan Iskan, dan yang yang saya sebut tadi; Jalaluddin Rakhmat.

Intinya, hypnotic writing adalah tulisan yang ditata untuk menghypnosis. Tulisan yang dikemas sedemikian rupa dengan pilihan kata, frasa, dan kalimat. Tulisan yang diformat, dan dibumbui cerita, data, bahkan gambar, dll yang sengaja ditujukan untuk menarik dan mempertahankan perhatian pembaca. Tulisan yang jelas, ringkas, dan efektif sehingga tak terlupakan. Tulisan yang membujuk pembaca untuk melakukan sesuatu yang sulit ditolak.

Mari ikuti apa yang akan saya tulis berikut ini. Saya akan mengajak anda menyelam sampai ke dasar hypnotic writing dan retorika, sehingga anda begitu dekat dengan kaedah-kaedahnya, mudah diaplikasikan semudah anda memasang sepatu anda sendiri. Bahkan saya bermaksud menghipnois anda dengan tulisan saya ini. Anda senang bukan? Bersiaplah.

Tahapan Menulis Wacana

Sekarang sampailah kita pada pembahasan tentang tahapan menulis wacana secara ringkas dari awal sampai akhir yang terdiri dari: (1) menangguk ide, (2) memilih topik dan menetapkan tema, (3) menguraikan tema dan mengumpulkan bahan, (4) menyusun kerangka, (5) menulis draf, (6) memperkaya dan menghaluskan tulisan, (7) membuat judul, (8) menyunting akhir. Setiap tahapan tersebut berikut ini akan kita bahas satu persatu agar dapat dijadikan acuan.

Menangguk ide.

Menangguk ide adalah langkah pertama menulis wacana. Kita tidak akan pernah bisa menulis sebelum kita mempunyai ide yang akan ditulis. Kalaulah menulis itu diumpamakan seperti memasak ikan sampai ia siap untuk dihidangkan, maka diperlukan ikan yang mentah. Ide adalah ikan mentah itu. Lezatnya masakan ikan itu tidak hanya tergantung dari kepandaian si juru masak menaburkan bumbu-bumbu, tapi juga tergantung dari jenis ikan mentahnya.

Pembaca tertentu adakalanya menyerahkan sepenuhnya kepada juru masak untuk memilih ikan dan teknik memasaknya, sedangkan yang lain lebih menyukai ikan-ikan tertentu dan cara memasak tertentu.

Demikian juga dengan menulis. Adakalanya Andalah yang memilih ide yang akan di tulis dan Anda pula yang menentukan cara memasak dan memilih bumbu-bumbunya. Namun, pada kesempatan lain Anda sudah disodorkan idenya, dan yang tinggal bagi Anda hanya cara menulisnya. Yang manapun yang terjadi, ide yang akan ditulis dan sajian menulisnya harus menarik minat pembaca dan sudah barang tentu menarik minat Anda pula sebagai penulis.

Disinilah terletaknya seni mencari ide yang akan ditulis sebagai wacana itu. Penulis tidak hanya berpikir kesukaannya saja, tapi dia juga harus mempertimbangkan selera pembaca. Benar bahwa dia harus menulis apa yang dia suka, kalau tidak demikian, ia akan kehilangan motivasi menulis. Namun itu tidak cukup. Kalau dia tidak mempertimbangkan selera pembaca, tulisannya tentu akan sia-sia, dilemparkan sebelum diselesaikan.

Kehadiran ide untuk ditulis merupakan suatu misteri. Kadang-kadang ide itu datang tiba-tiba tanpa diundang. Kadang-kadang ide itu harus diburu. Bahkan, pemburuannyapun kadang-kadang tidak menghasilkan apa-apa. Tidak adanya ide inilah yang selalu dijadikan alasan bagi yang enggan untuk mulai menulis sehingga akhirnya terus menunda penulisan.

Orang-orang tertentu mempunyai banyak ide untuk ditulis sedangkan orang yang lain terasa buntu dengan ide. Bagi orang tertentu selalu didatangi ide-ide yang tidak diundang berlimpah ruah sampai-sampai ia bingung harus mendahulukan yang mana. Tapi orang yang lain sibuk memburu ide namun selalu terhalang untuk menangkapnya hingga ia kembali dengan tangan kosong.

Saya menawarkan dua metoda untuk menangkap ide yang saya peroleh dari pengalaman banyak penulis profesional. Walaupun adakalanya ide itu datang tanpa diundang, sebagai penulis, kita tidak boleh bergantung pada ide jenis ini. Kita tidak boleh hanya menunggu sampai datangnya ide yang belum tahu kapan datangnya . Kita harus berperilaku sebagai nelayan yang siap mengharungi lautan luas untuk menangkap ikan. Kita mesti menyiapkan perahu, jala, tangguk dan kail untuk menangkap berbagai macam ikan itu. Kita akan terus mencari tanpa henti. Jika dapat satu, kita boleh langsung mengolahnya menjadi masakan yang lezat, kemudian kita mencari lagi. Boleh juga kkita tabung dulu ikan itu untuk nantinya kita masak sekaligus.

Seperti itulah kita berburu ide dilautan masalah yang ada dalam kehidupan ini. Kita layari dunia maya menggunakan search engine seperi Google atau Yahoo. Kita teluri halaman emi halaman majalah dan Koran. Kita telusuri buku-buku di perpustakaan, dll. Dapay satu ide, langsung tulis. Bisa jug aide itu ditabung dulu agar nanti ditulis pada kesempatan lain.

Agar perburuan kita itu efektif dan efisien, sebelum mengarungi lautan topik yang maha luas, kita membatasi dulu wilayah yang yang akan kita tuju berdasarkan kriteria kesukaan kita dan kesukaan pembaca. Setiap saat kita dapat mempersempit wilayah pencarian itu sampai akhirnya kita menangkap ide, berupa sebuah tema yang pas untuk kita dan untuk pembaca.

Walaupun kita berburu, kita jangan lengah dengan ide yang mungkin saja datang tanpa diundang. Untuk menangkap ide yang datang tanpa diundang itu, kita harus selalu membiasakan diri membawa alat tulis kemanapun kita pergi. Bahkan kalau mau tidur, kita letakkan alat tulis kita di sebelah dipan, kalau-kalau dalam tidur kita dapat ilham untuk ditulis. Biasanya ide itu bisa saja datang di tempat atau saat kita sedang tidak siap sehingga tidak mungkin untuk mengolahnya saat itu juga seperti sedang tidur, mandi atau sedang bergegas untuk berangkat bekerja. Untuk saat itu, ide itu cukup dicatat saja dulu apa adanya walaupun ide itu baru satu kata.

Kita mesti segera mencatatnya sebelum ide itu meluap. Catat apa saja yang ada. Bertemu satu kata, tulis satu kata itu. Bertemu satu frasa, tulis frasa itu. Syukur-syukur ide itu dapat dituangkan dengan kata lebih banyak seperti satu paragraf atau mungkin dapat dituangkan dalam satu halaman kertas dalam bentuk sinopsisnya . Pokoknya, kita mencatat ide-ide itu segera sebelum semuanya hilang dalam sekejap.

Nanti dalam kesempatan yang pas, kita membongkar catatan-catan itu kembali dan mengolahnya lebih jauh untuk menjadi suatu wacana yang lengkap dengan suasana yang lebih tenang.

Yang terbaik dari kedua proses antara menunggu atau berburu adalah menjalankan keduanya karena salah satu diantaranya tidak dapat saling menggantikan.

Memilih Topik dan Menetapkan Tema

Ketika suatu ide itu berbetuk satu kata atau satu frasa, ide itu disebut topik. Apabila ide itu dapat dituliskan dalam bentuk satu kalimat, ia dinamakan tema. Perbedaan antara tema dan topik adalah seperti perbedaan sekelompok ikan yang masih di kolam dan seekor ikan yang sudah di tangan. Ketika kita menyebutkan sekelompok ikan di kolam, kita baru menetapkan batasan-batasan jenis ikan yang ada di dalamnya. Tapi, kalau ikan itu sudah di tangan, kita dapat melihat jenis ikan itu secara spesifik. Kita tahu warnanya, bentuknya, bahkan kita sudah dapat membayangkan bagaimana rasanya kalau ikan itu nanti digoreng atau direbus.

Ini berarti sebelum menulis, ide-ide yang tadinya berupa topik-topik harus dapat dirumuskan dalam bentuk tema, yaitu suatu bentuk yang sudah jelas. Format tema biasanya dalam berbentuk kalimat sedangkan topik masih berbentuk kata atau frasa.

Kalau Anda katakan bahwa Anda akan menulis tentang "kepemimpinan", Anda baru menemukan topik. Ansda bisa membatasi topik menjadi topik yang lebih spesifik dengan menambahkan kata lain seperti "kepemimpinan di era reformasi" atau "kepemimpinan di Indonesia di era reformasi". Selain itu, Anda dapat merumuskan topik itu dalam satu kalimat yang lengkap, maka Anda berarti sudah memiliki tema tulisan. Contoh tema Anda adalah "Masyarakat Indonesia bwerada dalam kebingungan untuk memilih seorang yang benar-benar pemimpin dalam arti yang sesungguhnya sejak banyaknya iklan penawaran diri sebagai pemimpin bertebaran di media massa". Kalimat itu adalah tema tulisan yang sudah padat, ringkas dan sangat spesifik. Subjeknya jelas yaitu masyarakat Indonesia. Predikat utamanya juga jelas yaitu berada dalam kebingungan. Predikat keterangannya juga jelas yaitu untuk memilih seorang yang benar-benar pemimpin dalam arti yang sesungguhnya dan sejak banyaknya iklan penawaran diri sebagai pemimpin bertebaran di media massa.

Jika saya sudah dapat mewujudkan ide saya dalam wujud kalimat seperti itu, saya sudah menyelesaikan tahapan kedua, yaitu penetapan tema tulisan.

Menguraikan Tema Sambil Mengumpulkan Bahan

Kalau ikan sudah di tangan, langkah selanjutnya adalah mengumpulkan bahan-bahan lain yang diperlukan untuk memasak ikan itu. Anda akan mungkin memerlukan bahan penanambah seperi sayur-sayur. Anda juga memerlukan bumbu-bumbu penyedap.

Begitu juga dengan menulis, Anda memerlukan data-data, gambar, ilustrasi, contoh, kutipan, konsep, dll. Semua bahan itu diperlukan untuk menuliskan wacana yang lengkap. Jika terasa bahwa bahan tidak cukup, Anda harus mempersempit tema menjadi sesuatu yang terjangkau oleh kemampuan kita mengumpulkan bahan-bahan. Jika bahan terasa lengkap, bolehlah kita mulai memerinci tema tadi menjadi sub-sub tema. Sub tema dirinci lagi menjadi sub-sub yang lebih kecil, sampai Anda mempunyai satu unit yang tidak dapat diperkecil lagi.

Unit terkecil inilah yang nantinya akan menjadi satu paragraf dalam wacana.

Agar pemecahan ini berjalan dengan kreatif, pemecahan dilakukan terus menerus tanpa diselingi dengan pengelompokan ide-ide maupun penyuntingan. Semua pikiran yang mendorong untuk mengoreksi atau mengelompokkan harus dilawan. Kita biarkan otak kita bekerja hanya untuk mengurai tema. Pada tahapa ini penguraian pikiran ini akan berjalan ke semua arah, tanpa peduli urutan dan pengelompokannya.

Metoda brainstorming dan cara berpikir radiant yang dikembangkan oleh Tony Buzan lengkap dengan sistem mind- mappingnya, sangat bagus untuk diaplikasikan dalam proses ini.

Pengelompokan dan penyuntingan pikiran-pikiran dilakukan setelah pemecahan tema untuk sementara dianggap selesai. Pengelompokan dilakukan ketika penulis merasakan bahwa semua pikiran tidak ada yang unik, baru, atau menarik lagi untuk dipecah-pecahkan. Walaupun demikian pemecahan masih dapat dilakukan kembali selama pengelompokan terjadi.

Ingat, satu unit pikiran adalah pikiran yang akan dituangkan dalam satu paragraf.

Menyusun Kerangka

Bentuk tulisan yang sudah siap ditulis adalah bentuk kerangka yang sering disebut outline. Kerangka (outline) adalah bentuk penyajian unit-unit pikiran dalam bentuk point-point dalam suatu barisan yang rapi sesuai dengan tujuan wacana. Walaupun dalam bentuk poin-poin, dalam kerangka, kita sudah melihat bagian pendahuluan, bagian pembahsan, dan bagian penutup. Kita juga dapat melihat berapa paragraf yang akan membangun wacana itu walaupun setiap paragraf muncul hanya sebagai sebuah poin pikiran.

Kerangka karangan bagi penulis sama dengan peta rute perjalanan bagi para penjelajah alam. Tanpa itu mereka akan tersesat. Kerangka karangan bagaikan blue print bagi tukang yang sedang membangun bangunan. Tanpanya, bangunan tidak akan berbentuk sesuai yang diharapkan.

Seorang pelukispun, sebelum ia melukiskan detail-detail lukisannya, akan membuat kerangka lukisan terlebih dahulu. Setelah kerangkanya memberi gambaran yang cukup jelas, barulah ia akan melukiskan detailnya. Kalau tidak demikian, lukisan yang dihasilkan tidak akan proporsional. Bagian yang harusnya dominan menjadi tidak dominan. Bagian yang harusnya kecil malah menjadi besar.

Kerangka karangan dalam dunia tulis menulis sangat penting, terutama untuk menulis sebuah karya dengan tema yang cukup luas dan bahan yang banyak.

Memang ada beberapa penulis mengatakan bahwa tidak perlu membuat kerangka karangan terlebih dulu. Mungkin yang dimaksudkan dia adalah agar kita tidak terganggu untuk mulai menulis. Penulis professionalpun menggunakan kerangka. Setidak-tidaknya, kerangka itu mereka simpan di dalam kepala, bukan di kertas.

Ada yang mengatakan, ketika seseorang sudah menyelesaikan kerangka karangan, dia sudah menyelesaikan separuh pekerjaan menulis wacananya. Sekarang dia tinggal merampung separuh lagi dengan menulis draf, memperkaya bahasan, menghaluskan, menyunting, dan memberi judul.

Menulis Draf

Sekarang sampailah pada tahapan terpenting, yaitu mengubah unit-unit pikiran yang terkecil dalam kerangka karangan menjadi paragraf-paragraf. Proses ini dimulai dengan memilih kata-kata dan diteruskan dengan menyusunnya menjadi kalimat-kalimat untuk mengungkapkan setiap satuan pikiran. Setiap satu satuan pikiran awalnya diungkapkan dengan satu kalimat saja. Tapi, bila satu kalimat tersebut terasa tidak cukup untuk mengungkapkan satu unit pikiran secara tuntas dan jelas, maka beberapa kalimat dapat ditambahkan lagi. Yang penting, setiap kalimat yang ditambahkan itu tidak membahas satuan pikiran yang lain, tetapi hanya memperjelas pikiran yang pertama tadi. Jika demikian, rangkaian kalimat itu akan membentuk satu rangkaian yang saling terkait yang disebut paragraf.

Sebenarnya, semakin sedikit jumlah kalimat, paragraf itu lebih baik dan lebih efektif. Bahkan penulis-penulis tertentu senang menggunakan pararaf dengan satu atau dua kalimat saja. Tapi tentu jangan dipaksakan begitu. Kalimat yang terlalu sedikit dalam satu paragraf terasa kaku untuk dibaca karena ada elemen informasi yang tidak selesai sehingga menimbulkan pertanyaan bagi pembaca. Paragraf semacam ini tidak tuntas.

Demikianlah seterusnya, setiap poin-poin yang ada dalam kerangka karangan berubah menjadi paragraf-paragraf. Jika semuanya ada sepuluh poin, maka akan ada sepuluh paragaraf. Jika anda menambahkan atau mengurangkan paragraf, berarti anda telah menambahkan atau mengurangkan poin dalam kerangka.

Selama menulis draf, kita jangan banyak diganggu oleh kegiatan menyunting. Proses penyuntingan selama penulisan draf akan mengganggu kreatifitas penulisan. Menulis terus menerus tanpa henti banyak digunakan oleh penulis professional agar mereka tidak mau kehilangan aliran pikiran. Pikiran yang muncul langsung ditulis tidak peduli apakah pikiran itu sebagai subjek atau predikat. Bahkan tidak peduli apakah pikiran itu kelanjutan atau sama sekali lain dari pikiran sebelumnya. Pada proses ini, mereka lebih berkonsentrasi pada aliran pikiran.

Cara seperti ini disebut fast writing, yaitu menulis cepat tanpa menghiraukan ejaan, tanda baca, dan tata bahasa dalam satu target waktu tertentu, misalnya 25 menit. Cara ini banyak ditempuh selain untuk mencegah kebuntuan pikiran tapi juga untuk meningkatkan kreatifitas menulis.

Memperkaya dan Menghaluskan Tulisan

Memperkaya bahasan artinya menambahkan lagi bahasa yang sudah dibuat dalam bentuk draf, baik berupa tambahan data, paragraf, gambar, ilustrasi, contoh, dll. Menghaluskan tulisan artinya menambal-nambal di tempat yang bolong atau memangkas di tempat yang terlalu menonjol.

Biasanya, setelah semua satuan pikiran telah berubah menjadi paragraf-paragraf, kalau dibaca belum tentu menjadi sebuah bacaan yang enak dibaca yang semua pikiran mengalir dengan lancar. Di banyak tempat terjadi ketidaktuntasan sementara di tempat lain terjadi pembahasan yang terlalu berlebihan. Di banyak tempat mungkin terjadi pengulangan-pengulangan yang tidak perlu, dll.

Sekarang, dalam tahap ini, giliran penulis untuk menghaluskan tulisannya. Pengahalusan itu bisa menambahkan kalimat-kalimat baru dalam paragraf yang sudah ada atau bahkan mungkin menghilangkan sebagiannya. Penghalusan juga berarti menambahkan atau mengurangi satu unit paragraf secara utuh. Tujuan penghalusan adalah mendapatkan tulisan yang tuntas, padu, dan indah.

Membuat Judul

Pemberian judul mutlak menjadi satu tahap sendiri. yang tidak dapat dianggap remeh. Sebenarnya, judul dapat diberikan pada waktu menyusun tema atau pada waktu menyusun kerangka. Namun yang paling baik, judul dilakukan setelah penghalusan tulisan. Artinya, judul diberikan ketika sudah mendekati selesainya penulisan.

Walaupun demikian pemberian judul tidaklah kaku. Kapan dibuatnya tidak menjadi persoalan yang penting. Semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri.

Yang perlu diingat adalah bahwa judul merupakan wajah tulisan kita. Orang bisa tertarik membaca atau sama sekali berpaling sering disebabkan oleh judul. Kalau begitu, betapapun judul telah mencul di awal-awal penulisan, judul harus dikaji ulang sebelum tulisan dianggap selesai.

Pembuatan lebih dari satu judul kemudian memilih yang terbaik juga merupakan cara pemberian judul yang sangat direkomendasi. Bahkan melibatkan kawan, keluarga, atau sebagian calon target pembaca melalui survey banyak dilakukan oleh penulis professional.

Banyak bahan yang dapat dipakai menjadi judul. Bahan yang paling mudah adalah tema karangan itu sendiri yang ditambahi satu dua kata atau dikurangi satu dua kata sehingga menarik dan provokatif. Tetapi tidak mesti demikian. Judul bisa diambil dari sumber yang lain atau mungkin dibuat dari kata-kata tersendiri.

Apapun judulnya dan bagaimanpun cara pengambilannya, judul harus mencerminkan isi karangan disamping harus menarik. Banyak tulisan yang bagus dan bermutu isinya tapi dilewatkan banyak orang karena judulnya sama sekali tidak menarik.

Menyunting Akhir

Di tahapan ini, penguasaan tatabahasa, tanda baca, dan ejaan mulai digunakan hati-hati. Bahkan ada penulis yang memanfaatkan jasa editor di tahapan ini. Di tahap ini, semua kata dan kalimat diuji dan dikoreksi secara tatabahasa. Penempatan titik, koma, dan tanda baca lainnya dikoreksi secara tuntas. Penulisan huruf kapital, istilah-istilah tetentu pada tahap ini akan dipermasalahkan cara penulisannya.

Itulah sebabnya mengapa, sebagian besar pengarang menempatkan tahapan ini pada tahapan terakhir. Kalau tahapan ini disatukan dengan tahapan penulisan draf, biasanya terjadi gangguan kelancaran aliran pikiran. Alih-alih menuliskan pikiran, kita akan sibuk dengan kegiatan tulis-hapus secara berulang-ulang. Dengan cara ini karangan tak akan pernah selesai.

Demikianlah kedelapan tahapan menulis wacana yang diuraikan secara ringkas. Dalam kesempatan yang akan datang, saya akan menguraikan panjang lebar setiap tahapan itu, masing-masing dalam satu artikel tersendiri.

Senin, Oktober 20, 2008

Struktur Wacana

Setelah Ratu Balqis mengetahui kekuatan Sulaiman di Jerussalem, dan melihat betapa terancamnya dia yang berada di satu tempat yang tidak begitu jauh dari sana, Balqis mengirimi Sulaiman hadiah-hadiah. Tak seorangpun yang pernah menjelaskan apa maksud hati Balqis dengan hadiah-hadiah itu. Kita hanya bisa menebak bahwa itu tak jauh dari maksud hati sebagian besar kita ketika mengirimi orang-orang penting dan kaya dengan hadiah. Sulaiman hanya tersenyum dan tak mengambil hadiah-hadiah itu. Tanpa marah, Sulaiman kemudian mengutus seseorang untuk mengembalikan hadiah-hadiah itu bersama selembar surat.

Guncanglah hati Ratu Balqis yang cantik itu. Bukan karena hadiah-hadiahnya yang dikembalikan itu, juga bukan karena sang utusan, tapi karena isi surat dari Sulaiman. Surat itu telah menggetarkan jiwa Balqis, padahal tidak banyak yang ditulis Sulaiman di dalamnya kecuali nama Tuhan dan undangan agar Sang Ratu datang menghadapnya. Namun, kalimat yang pendek itu ternyata sarat dengan makna. Kalimat-kalimat Sulaiman telah mengoyak dada Balqis dan membuatnya takut sehingga tak sanggup lagi mencari alasan untuk tidak memenuhi undangan itu.

Inilah kehebatan sebuah wacana tulis. Secara fisik, wacana hanya terdiri dari selembar kertas yang di atasnya bertuliskan sesuatu. Bukan tulisan itu yang menakjubkan, tapi apa yang dikandung dalam rangkaian kalimat-kalimat itu. Balqis tahu, bahwa surat dari Sulaiman bukan sembarang wacana, tapi sebuah wacana yang berisi pikiran seorang penguasa yang tak terkalahkan di dunia dan mengatasnamakan Tuhan yang lebih-lebih tak tekalahkan lagi kuasaNya.

Wacana adalah satu bangun karangan yang utuh. Unsurnya yang paling kecil adalah kalimat. Kemudian, beberapa kalimat disatukan untuk menjelaskan satu ide tertentu yang disebut paragraf. Paragraf demi paragraf kemudian dirangkai-rangkai membahas satu tema tertentu dalam satu wilayah pembahasan yang disebut topik. Bentuk terakhir inilah yang dinamakan wacana.

LAHIRNYA SEBUAH WACANA

Wacana bermula dari satu ide atau pikiran yang muncul di otak penulis. Bersamaan dengan munculnya pikiran tersebut, penulis kemudian menemukan satu kata yang maknanya berkorelasi langsung dengan apa yang ia pikirkan. Penemuan kata yang maknanya terkait dengan apa yang sedang dipikirkannya itu merupakan cikal bakal lahirnya sebuah wacana; ada pikiran dan ada kata untuk sebagai simbolnya. Jika hanya ada pikiran saja namun ia tidak menemukan satu katapun maka tidak akan lahir wacana.

Satu kata tidak cukup. Jika kemudian si penulis menemukan kata yang lain dan si penulis dapat menuliskan rangkaian kata berbentuk kalimat, maka si penulis telah memasuki langkah kedua pembuatan wacana. Langkah kedua itu adalah merangkai kata menjadi kalimat. Dalam rangkaian itu ada subjek dan ada predikat. Dengan susunan itu lahirlah informasi yang siap untuk dibaca.

Bila suatu kalimat belum cukup, beberapa kalimat tambahan dapat disusulkan untuk menjelaskan lebih jauh ide dari kalimat pertama tadi, sehingga sekarang terbentuklah rangkaian kalimat yang dinamakan paragraf. Demikianlah seterusnya terjadi berulang-ulang: lahir kalimat baru, paragraf baru, dan akhirnya satu tema akan dituntaskan pembahasannya apabila telah terbangun beberapa paragraf yang berada sekeliling tema itu. Bagian terakhir inilah yang dinamakan wacana.

Kalau kita hanya melihat dari sisi kata dan susunannya saja, wacana yang satu hanya akan berbeda dengan wacana lain ditinjau dari pilihan kata dan struktur kalimat saja. Walaupun pada wujudnya wacananya hanyalah rangkaian kata-kata, namun kita tidak cukup melihat di sisi itu saja. Wacana adalah rangkaian pikiran bukan rangkaian kata. Karena itu terdapat sejumlah pembeda antara satu wacana dengan wacana yang lain yang tidak akan terlihat bila dari sudut bahasa saja. Banyak aspek yang harus dilihat.

Berikut ini, saya akan membawa Anda menelusuri satu persatu aspek tersebut untuk melihat secara dalam suatu wacana sehingga kita dapat mempersiapkan diri melahirkan suatu wacana yang bermutu.

ANTARA TOPIK, TUJUAN, DAN TEMA

Aspek pertama dalam melihat suatu wacana adalah topik. Setiap wacana mempunyai topik atau wilyah kajian, yaitu suatu ruang pikiran yang lebih luas yang menaungi apa yang dibahas dalam wacana. Semakin sempit wilayah kajian yang dinamakan topik itu, semakin tajam pembahasan wacana. Unsur terpenting wacana ini harus ada sebelum menulis. Kalau tidak, proses penulisan wacana akan lari ke berbagai topik sehingga tidak ada satupun yang tajam pembahasannya. Wacana yang tidak bermutu adalah wacana yang topiknya luas tapi dangkal pembahasannya. Jika sebelum menulis, topik telah jelas dan spesifik maka seluruh daya dan pikiran penulis akan terarah.

Penulis harus punya misi atau tujuan dalam menulis wacana. Bagaikan menembak, mesti ada sasarannya sebelum perangkat menembak disiapkan. Kalau Anda akan menembak babi, Anda akan menyiapkan perangkat yang berbeda dengan kalau Anda akan menembak burung.

Tujuan penulisan wacana akan terbaca jelas dalam wacana itu betapapun tidak disebutkan secara eksplisit oleh penulisnya. Seseorang yang tujuannya menumbangkan suatu kebiasaan buruk masyarakat akan berbeda isi dan teknik-teknik penulisan wacananya dengan orang yang tujuannya hanya untuk menghibur dan mencari popularitas. Seseorang yang tujuannya menjual sesuatu berbeda tulisannya dengan orang yang menulis untuk mengajak seseorang menuju kebenaran. Dari tujuan inilah satu wacana berbeda dengan wacana lain.

Tema adalah ringkasan wacana itu sendiri yang dirumuskan dalam satu kalimat yang lengkap. Tema bagaikan lokomotif yang akan menarik gerbong-gerbong yang dibuat kemudian. Semua gerbong yang akan ditempatkan di belakang lokomotif harus sesuai dan serasi dengan lokomotifnya. Itulah tema. Seseorang yang sudah paham dengan apa yang akan dia tulis, harus mampu menuangkan tema ini dalam bentuk kalimat yang mencakup sekaligus tujuan penulisan.

DATA : ANTARA FAKTA DAN FIKSI

Wacana mengandung data. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah data-data itu sesuatu yang benar-benar ada ataukah hanya sebuah rekaan penulis. Minyalnya saya menulis nama seseorang, sebut saja Ahmad, dalam wacana saya. Apakah si Ahmad ini benar-benar ada atau hanya tokoh rekaan saya saja? Kalau benar-benar ada, berarti data itu merupakan fakta. Bila si Ahmad itu hanya hasil reka-rekaan, fantasi, atau ilusi saya saja, data itu itu fiksi.

Perbedaan antara wacana fiksi dan non fiksi adalah dari segi data ini. Sebuah wacana yang diklaim sebagai non fiksi harus bisa dipertanggungjawabkan oleh penulisnya bahwa semua data yang dimasukkan ke dalam tulisan itu seluruhnya fakta. Jika ada saja unsur yang fiktif dalam suatu wacana, walaupun ada juga faktanya, tulisan itu mesti dikelompokkan ke dalam jenis fiksi. Bahkan jika ada fakta yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, tulisan itu masih digolongkan tulisan fiksi.

Perbedaan tulisan ilmiah dan susatra adalah perbedaan jenis data yang dimasukkan dalam wacana. Tulisan ilmiah tidak boleh memasukkan data fiktif. Semuanya mesti fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah yang telah baku metodologinya. Tulisan susastra, justru sengaja memasukkan unsur fiktif, baik tokoh, tempat, dan waktu sehingga ia tergolong fiksi.

Orang-orang tertentu sering keliru melihat bila disebut novel atau cerpen, cendrung mengatakan bahwa itu fiksi. Padahal fiksi atau tidaknya suatu wacana tidak tergantung dari topik, tema, judul, format, ragam bahasa suatu wacana. Fiksi atau tidaknya suatu wacana tergantung dari data-data yang diungkapkan.

SUDUT PANDANG: ANTARA OBJEKTIF DAN SUBJEKTIF

Selain data, di dalam wacana ada sudut pandang penulis. Ada yang subjektif dan ada yang objektif. Suatu wacana dibedakan antara wacana yang menggunakan sudut pandang objektif dan sudut pandang subjektif. Objektif, maksudnya, siapapun yang menulisnya, kira-kira hasilnya akan sama. Subjektif akan berbeda-beda sesuai penulisnya.

Essai singkat yang sering dimuat di surat kabar yang sering disebut opini adalah wacana dengan sudut pandang sangat subjektif. Makanya ia sering dinamakan opini. Maksudnya, di dalam tulisan itu si penulis menggunakan pendapatnya sendiri secara bebas. Sebaliknya dalam skripsi atau disertasi sudut pandang yang subjektif ini dihindari. Si penulis harus memandang suatu masalah dari sudut yang sama dengan penulis lain yang sudah disepakati dalam etika keilmuannya. Sudut pandang inilah yang disebut sudut pandang objektif.

Walaupun dalam tulisan ilmiah tidak bisa dihindari adanya sudut pandang subjektif, tapi si penulis harus berusaha untuk memisahkan bagian-bagian yang merupakan sesuatu yang objektif berupa hasil-hasil penelitian dan interpretasinya menurut sudut pandang baku dan unsur-unsur subjektif berupa opini penulis. Kualitas keilmiahan suatu wacana terletak pada tingkat objektifitas sudut pandang dan keterpisahan unsur-unsur yang objektif dan subjektif.

Tulisan susastra, sebaliknya, karena tujuannya bukan mengungkapkan fakta, unsur objektif dan subjektif tak dapat dipisahkan lagi. Semuanya tercampur. Bahkan hampir keseluruhan isi karya susastra berasal dari sudut pandang subjektif, walaupun dalam karya tersebut si penulis menggunakan tokoh orang ketiga.

BAHASA: ANTARA RESMI DAN PERSONAL

Suatu wacana ditandai dengan ragam bahasa yang dipakai. Ada wacana yang menggunakan ragam bahasa resmi seperti disertasi, tesis, skripsi, makalah-makalah, proposal, dll. Ada pula wacana yang ditulis dengan ragam bahasa personal seperti surat pribadi, buku harian, cerpen, novel, dll.

Tulisan susastra cendrung menggunakan ragam bahasa personal karena karya tersebut ingin menyentuh hal-hal yang sangat personal seperti perasaan dan emosi. Kalimatnya pendek-pendek. Paragrafnya kadang-kadang hanya satu atau dua kalimat. Kata-kata yang dipakai cendrung mengandung makna konotasi. Bahkan dalam menggambarkan sesuatu, karya ini banyak menggunakan kiasan sebagai pembanding.

Tulisan ilmiah atau akademis cendrung menggunakan kalimat yang panjang-panjang dan paragra yang terdiri dari banyak kalimat. Pemilihan katanya sangat hati-hati agar tidak mengandung konotasi. Berbagai istilah serapan lebih sering digunakan agar lebih mudah dipahami oleh kalangan yang terbatas.

Tulisan jurnalistik menggunakan ragam bahasa di antara keduanya. Ketika tulisannya menyentuh hal-hal yang serius, penulis jurnalistik cendrung menggunakan kalimat yang panjang dan kaku, tapi ketika pembahasan mengarah kepada hal-hal yang santai dan jenaka, penulis menggunakan bahasa personal yang akrab. Tidak jarang ada bagian yang menggunakan bahasa gaul.

SISTEMATIKA: ANTARA BAKU DAN BEBAS

Karya-karya seperti tesis dan disertasi harus mengikuti suatu sistematika yang sudah baku. Ada bab pendahuluan , ada bab tinjauan teori, ada bab analisis data, ada bab interpretasi dan opini, dan ada bab kesimpulan dan saran. Setiap babpun telah ditetapkan kandungan-kandungannya masing-masing. Selain itu, ada pula ketentuan membuat daftar isi, daftar gambar, daftar pustaka dan indeks. Semua sistematika itu telah ditetapkan oleh suatu lembaga yang berwenang yang tidak boleh dilanggar.

Wacana yang tidak memiliki sistematika baku tertentu, biasanya berlaku pada tulisan susastra. Sistematika itu lebih cendrung mengikuti kehendak pasar. Karena itu selalu ada kreatifitas penulis dalam menentukan sistematikanya. Penulis susastra selalu berekperimen menemukan sistematika yang laris-manis di pasar.

MODUS

Walaupun isi wacana beragam, ada beberapa modus yang mencirikan kandungan suatu wacana. Modus ini dikaji oleh para ahli untuk mendapatkan suatu teknik terefektif dalam menciptakan modus tersebut dalam tulisan. Modus-modus yang terkenal itu adalah modus deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi dan persuasi. Semua modus memiliki tujuan dan pendekatan yang berbeda-beda.

Modus deskripsi berisi gambaran atas sesuatu secara visual. To describe artinya melukis sesuatu dengan kata-kata. Jadi, deskripsi bagaikan sebuah lukisan atau gambaran sesuatu yang langsung dapat diimajinasikan oleh pembaca. Beda antara deskripsi dan luskisan bentuk dan warna terletak pada bahwa dalam deskripsi digunakan rangkaian kata. Deskripsi harus dibaca untuk mendapatkan imajinasi. Dengan membaca, seseorang dapat memvisualisasikan sesuatu bagaikan menonton sebuah video. Lihat contoh berikut ini.

Sore itu udara sepanas kue bika yang belum lama dikeluarkan dari panggangannya. Udara yang panas itu bertiup ke arah Damhuri. Sejenak terlihat janggutnya yang berwarna kemerahan melambai. Damhuri duduk termenung di korsi rotan yang sudah reot, sambil memegang selembar kertas.

Modus narasi berisi cerita, kisah atau story. Narasi artinya mengisahkan sesuatu. Pembaca dibawa ke dalam episode-episode yang tersusun dengan urutan waktu yang dinamakan plot. Ada plot maju dan ada plot mundur mengikut gerakan waktu. Apapun plotnya, dalam narasi penulis menjelaskan suatu kejadian berdasarkan satuan waktu. Baca contoh berikut ini.

Setelah saya selesaikan penulisan surat itu sampai paragraf terakhir, komputer saya tinggalkan begitu saja, dengan maksud kalau saya nanti kembali, saya dapat menyelesaikan keseluruhan surat itu hingga tercetak. Saya berdiri menuju ke luar kantor yang berada di lantai lima. Tak lama setelah itu, sayapun sudah sampai di lantai dasar setelah menggunakan lift yang cukup cepat. Saya kemudian menuju masjid. Di pintu masjid, saya menitipkan sepatu, dan masuk ke kamar wuduk. Belum lagi saya membuka kran wuduk secukupnya, HP sayapun berdering.

Modus ekposisi berisi penjelasan tentang sesuatu. Eksposisi artinya menerangkan sesuatu secara jelas. Agar jelas, semua informasi biasanya difokuskan kepada sesuatu yang dianggap perlu: kepentingan, keutamaan, keklimaksan, dll. Adakalanya penulis membuat definisi sesuatu konsep atau membuatkan klasifikasinya. Kadang kala penulis membuat perbandingan dengan sesuatu yang lain baik persamaan ataupun perbedaannya. Dalam eksposisi, penulis kadang-kadang menjelaskan hubungan sebab-akibat atau hubungan runtutan dari dua hal yang berbeda. Berbeda dengan deskripsi yang hanya menyentuh unsur-unsur visual saja, eksposisi menyentuh unsur-unsur yang lebih beragam seperti contoh berikut ini.

Ada dua sebab para pengarah enggan merujukkan rencananya ke atasannya. Pertama: dia takut kalau atasan tak setuju sehingga ia harus membuat rencana baru lagi yang tidak sedikit memakan waktu dan energi. Kedua: dia takut kalau rencana itu sukses, yang naik namanya adalah atasan itu, bukan dia.

Modus argumentasi berisi pembuktian atas suatu pernyataan. Argumentasi sendiri artinya menaklukkan keyakinan seseorang. Biasanya penulis mengungkapkan lebih dulu pernyataan yang akan diuji kebenarannya itu. Dengan menyebutkan sejumlah bukti, penulis kemudian menarik suatu kesimpulan benar atau tidaknya pernyataan tadi. Jadi, dalam argumentasi selalu ada premis, bukti dan konklusi. Tingkat kebenaran bukti-bukti harus tidak boleh diragukan pembaca karena akan mempengaruhi keabsahan argumentasi itu sendiri. Argumentasi juga harus mengikuti suatu nalar tertentu. Yang berikut adalah contoh argumentasi.

Sistem pemilihan kepala daerah berjenjang tiga seperti sekarang menelan biaya politik yang sangat mahal yang akhirnya dapat meruntuhkan sendi-sendi sosial yang sedang diperjuangkan melalui sistem demokrasi. Satu pemilu di tingkat kota saja telah menelan biaya puluhan milyar rupiah. Coba bayangkan bila setiap kota dan kabupaten mengadakan pemilu pemilihan kepala daerahnya, sementara jumlah kota dan kabupaten di Indonesia lebih dari dua ratus. Selain itu, negara masih harus menanggung biaya pemilu kepala daerah untuk tingkat propinsi yang jumlahnya hampir empat puluh. Masih belum selesai, negara mesti menyelenggrakan lagi pemilu pemilihan presiden dan wakil presiden yang biaya tak mungkin lebih rendah dibandingkan dengan biaya pemilu tingkat kota.

Modus persuasi berisi ajakan. Persuasi sendiri artinya membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu dengan senang hati bukan terpaksa. Jadi dalam persuasi, si penulis harus menunjukkan hal-hal yang meyakinkan pembaca agar ia senang melakukan yang diajakkan itu. Biasanya, persuasi dimulai dengan menunjukkan masalah yang ada kemudian dilanjutkan dengan tawaran penyelesaian masalah. Persuasi biasanya juga menunjukkan sejumlah bukti-bukti yang membuat pembaca tertarik untuk melakukan tindakan. Persuasi harus berakhir dengan suatu ajakan kepada penyelesaian masalah. Dalam persuasi lebih diutamakan unsur emosional agar persuasi memiliki daya dorong yang kuat. Perhatikan contoh berikut.

Sebenarnya ketombe yang sedang berjangkit sekarang, kalau dibiarkan, bukan saja akan merontokkan rambut kita, tetapi dapat mengelupaskan kulit kepala karena ketombe itu termasuk jenis langka dan berbahaya. Tapi, beruntunglah, seorang ahli telah menemukan solusinya berupa sebuah ramuan yang dapat membersihkan semua ketombe itu tanpa ada sisa sebesar debu sekalipun. Andapun tak perlu merusak anggaran biaya rumah tangga karena membelinya, sebab harga ramuan itu tak lebih mahal dari sekantong pisang goreng. Tunggu apalagi? Belilah sekarang sebelum ramuan itu habis dan anda terpaksa menjual rumah untuk mengganti kulit kepala yang mengelupas.

Pada tingkat paragraf, kita hanya mungkin menggunakan salah satu bentuk tersebut. Tapi, dalam tingkat wacana, kita selalu menggunakan modus campuran. Kita memilih salah satu bentuk modus sebagai modus utama wacana kemudian kita menggunakan modus-modus lain sebagai pengisinya. Maksudnya di dalam wacana yang argumentatif, bisa kita gunakan sebagian paragrafnya bersifat naratif, deskriptif, atau expositif. Demikian juga dalam wacana naratif, sering ditemukan paragraf yang melukiskan sesuatu (narasi), menjelaskan sesuatu (eksposisi) atau mendebat sesuatu (argumentasi.)

JUDUL, BAGIAN PEMBUKA, DAN BAGIAN PENUTUP.

Ada tiga bagian dalam wacana yang bukan isinya, tetapi memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu judul, bagian pembuka, dan bagian penutup.

Judul wacana tidak dapat dipandang remeh. Banyak dari kita tertarik untuk mulai membaca karena terprovokasi oleh judul. Walaupun judul belum mencerminkan isi wacana itu, suatu wacana mesti diberi judul. Judul akan mengantarkan pembaca memasuki ruang wacana yang lebih luas. Judul adalah gerbangnya. Bila gerbangnya tidak menarik, pembaca enggan masuk dan memilih pindah ke rung yang lain.

Bila wacana dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil seperti bab, fasal, dan subfasal, setiap bagian itu harus diberi judul. Karena setiap bagian memiliki tema tersendiri, untuk tulisan Ilmiah, judul-judul diambil langsung dari tema bagian-bagian itu. Sementara itu, untuk wacana susastra, judul tidak perlu harus sama dengan tema. Untuk susastra, yang penting adalah daya pikatnya. Judul untuk susastra biasanya menggunakan kata atau frasa yang menimbulkan keingintahuan pembaca.

Bagian pembuka suatu wacana berfungsi untuk mempersiapkan pikiran pembaca sebelum memasuki isi wacana. Terus atau tidak terusnya orang membaca wacana tergantung sekali pada bagian pembuka ini. Sebagai pembuka, bagian ini berperan menyiapkan mental spriritual pembaca untuk menerima isi wacana yang akan disampaikan penulis. Itulah sebabnya, bagian ini mesti menarik perhatian pembaca. Bagian ini harus mampu menghentikan pikiran pembaca ke bidang lain sehingga dia bertekad untuk menyelesaikan bacaannya.

Bagian pembuka yang telalu singkat tidak cukup mampu membuka jalan pikiran pembaca. Sebaliknya, pembuka yang terlalu panjang, apalagi berbelit-belit akan membosankan. Panjang pendeknya suatu bagian pembuka sebenarnya relative tergantung pada panjang pendeknya isi wacana. Ada wacana yang dibuka oleh satu paragraf saja, namun ada juga yang memerlukan satu buku sebagai pembuka.

Di antara cara yang banyak ditempuh dalam membuka wacana adalah menguraikan tujuan penulis. Menguraikan tujuan adalah cara yang paling konvensional untuk menarik pembaca. Diharapkan, ketika pembaca melihat tujuan wacana itu bersentuhan dengan kepentingannya, pembaca akan serta merta bersedia duduk sejenak menyelesaikan bacaannya.

Selain menjelaskan tujuan, kadangkala, latar belakang wacana memberi sentuhan tersendiri pula. Walaupun wacana itu tak akan berpanjang-panjang dengan latar belakang tersebut, tetapi nilai rasa yang ada dalam latar belakang akan menular ke keseluruhan isi tulisan.

Masih banyak cara lain yang dapat dikembangkan untuk membuka wacana, baik dengan bentuk pernyataan yang to the point maupun dalam bentuk lain seperti kisah, anekdot, kutipan. pertanyaan provokatif dan lain-lain.

Berbeda dengan pembuka, bagian penutup juga tidak kalah penting. Penutup bertujuan menimbulkan kesan akhir yang positif kepada pembaca bahwa wacana ini tidak boleh diremehkan. Kalau perlu, pembaca dipancing untuk mengikuti wacana selanjutnya yang jauh lebih menarik. Bahkan, bagian penutup juga berfungsi untuk memotivasi pembaca untuk melakukan sesuatu

Cara yang paling banyak dipakai menutup wacana adalah dengan cara meringkas isi wacana. Meringkas bertujuan agar pembaca mengingat kembali butir-butir penting dalam wacana teersebut. Dalam tuslisan eksposisi dan argumentasi, bagian penutup berfungsi sebagai tempat menuliskan kesimpulan dari apa yang dieksposisikan dan diargumentasikan. Untuk persuasi, saran dan anjuran bertindak sangat penting ditekankan di bagian penutup. Karena itu, bagian ini digunakan sebagai tempat memotivasi pembaca untuk terakhir kali untuk mengambil tindakan yang tidak terkesan sebagai hasutan penulis.

Seperti juga membuka, banyak teknik menutup baik dengan cara to the point maupun dengan cara mengungkapkan kisah, menulis anekdot, menulis kutipan, atau mengajukan pertanyaan provokatif. Semuanya boleh dicoba sepanjang dapat menimbulkan kesn positif.

SEBERAPA PANJANG SATU WACANA ITU?

Wacana yang ditulis Sulaiman kepada Balqis hanya satu paragraf, yang tediri dari dua kalimat yang sangat mengesankan. Kalimat pertama berbentuk kalimat berita dan yang kedua berbentuk kalimat perintah.

Surat ini dari Sulaiman, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jangan engkau merasa sombong kepadaku, dan datanglah kepadaku dalam keadaan menyerah!.

Tapi pernahkah anda membaca Ihya Ulumuddin, karya Al-Ghazali? Wacananya terdiri dari 40 kitab. Setiap kitab dibaginya menjadi beberapa bab. Setiap bab dibagi menjadi beberapa fasal. Dan, setiap fasal terdiri dari puluhan paragraf.

Pada dasarnya, satu paragraf sudah merupakan satu wacana, seperti wacana Sulaiman di atas. Tapi, untuk menuntaskan seluruh tema yang memang sangat luas, diperlukan beratus-ratus paragraf seperti wacana Al-Ghazali. Luas-sempitnya temalah yang menentukan panjang pendeknya wacana.